SUMAT E R A membereskan rumahnya terlebih dahulu hingga pukul 08.00 WIB. Sementara laki-laki sudah terlebih dahulu pergi ke kebun. Perempuan akan bekerja di kebun dari pukul 08.00—11.00 WIB. Biasanya anak-anak yang masih di bawah usia sekolah masih ikut ke kebun. Sembari bekerja di kebun, perempuan Banding Agung Semende juga harus mengasuh anak-anaknya. Setelahnya perempuan harus kembali ke rumah pada pukul 12.00 WIB untuk memasak, makan siang bersama, dan beristirahat hingga pukul 14.00 WIB. Laki-laki pulang untuk makan siang dan beristirahat. Sesudahnya, baik laki-laki dan perempuan kembali ke kebun dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 sore. Laki-laki kadang lebih sore lagi. Perempuan harus kembali mengurus pekerjaan domestiknya, mengambil air, memasak, dan memandikan anak. Setelah makan malam, pada pukul 20.00 WIB, kerap penduduk Banding Agung Semende sudah lelap dalam tidurnya. Kelelahan karena mengurus kopi dan kebun, serta tidak tersedianya listrik membuat perempuan dan anak di Banding Agung Semende dapat tertidur dengan lelap. Di kebun terdapat pembagian kerja yang diatur bersama oleh perempuan dan laki-laki Banding Agung Semende. Kopi merupakan komoditi utama bukan hanya di Banding Agung Semende, tetapi juga seluruh petani dan masyarakat adat di punggung-punggung TNBBS. Kopi hanya akan panen raya sekali setahun. Masa panen raya ini biasanya pada bulan Februari hingga Juni setiap tahunnya. Masa lima bulan ini adalah masa yang paling berat. Setidaknya pada masa ini, kopi harus dipanen sedikitnya tiga kali. Biasanya setiap bulan panen raya selama 5 bulan tersebut. Perempuan-perempuan dan laki-laki adalah pekerja utama untuk me-mutil kopi. Biasanya mereka mengerjakan sendiri me-mutil kopi seluas 2,5 Ha milik mereka. Kopi yang sudah di-putil harus segera dijemur, kemudian digiling. Setelahnya kopi bisa dijual ke luar Semende untuk mendapatkan harga yang lebih baik, atau menunggu tengkulak yang mau membelinya. Kopi yang sudah tergiling tersebut dihargai sebesar Rp18.000,-/kg bila di bawa ke luar Semende. Sementara bila dibeli oleh tengkulak kopi, harganya hanya Rp15.000,-/kg. Masyarakat adat umumnya lebih banyak menjual kopinya kepada tengkulak, karena tantangan untuk membawa kopi ke luar Semende harus dengan menghadapi alam yang luar biasa berat, jalan yang buruk, terjal, dan menurun serta licin luar biasa. Jalan yang ada hanya jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dan motor trailer. Belum lagi bila di titik-titik alternatif di ketiga simpang jalan tersebut, Polhut TNBBS sudah menunggu dan bisa menyita kopi 63

Select target paragraph3