60 Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n hamparan padang kopi, dan kampung-kampung petani yang terdiri dari 2—3 rumah panggung kecil. Setidaknya, 3 kali kita harus melewati batang kayu sebesar pelukan yang membentang di atas kepala, karenanya kita harus menunduk bila melewatinya. Alternatif kedua menuju Banding Lame bisa dicapai melalui Simpang Kolek. Simpang ini melewati lokasi perumahan dan perkebunan transmigrasi, lalu masuk ke perkebunan milik petani-petani dari Jawa yang membuka hutan di lokasi tersebut. Bentangan jalan ini lebih panjang, lebih jauh, lebih sulit, lebih rawan pencegatan Polhut, namun juga lebih indah. Kita melewati sedikitnya 6 aek (sungai) berbatu-batu besar maupun kecil, membentang sepanjang perjalanan. Satu sungai terakhir yang dilewati mengharuskan sepeda motor untuk masuk ke dalam air karena tidak ada jembatan di atasnya. Untungnya, airnya jernih dan hanya merendam separuh sepeda motor. Dari Simpang Kolek tersebut kita akan menemukan jalan beraspal kasar, lalu diikuti dengan jalan tanah merah yang sudah dilapis dengan pecahan batu koral yang tajam di sisi-sisinya. Kemudian kita akan bertemu dengan jalan tanah merah yang licin namun lebar hingga Sidirejo, lokasi perkampungan transmigran. Perkampungan yang tidak terlalu ramai ini kemudian menghantarkan kita ke jalanan yang sangat curam, terjal dan sempit. Termasuk sebuah tikungan sepanjang 1 km yang sangat tinggi sekali diakhiri dengan jembatan besar. Semakin ke dalam, kita harus melewati setidaknya 7 kali hutan kecil, 6 buah sungai, dan belasan kali tikungan dan tanjakan kecil, terjal dan curam, maupun turunan yang licin dan sempit. Perjalanan dari Semende hingga Sawang, Kabupaten Kaur dengan jalur ini bisa ditempuh dalam 6 jam perjalanan. Tentu saja, bila hujan perjalanan menjadi lebih berat. Apalagi bila membawa beban kopi, petani-petani harus bertahan hingga 2—3 hari untuk sekali jalan saja. Pulang pergi harus ditempuh setidaknya selama seminggu. Merpas merupakan alternatif ketiga yang bisa ditempuh untuk menuju Dusun Lame. Dibandingkan dua jalur sebelumnya, Jalur Merpas adalah jalur yang terpanjang dan tersulit. Terutama bila saat hujan tiba. Meski begitu, jalur ini juga kerap dilewati oleh masyarakat adat Semende. Bagi perempuan Dusun Lame Banding Agung, tentunya ketiga jalur tersebut sangat berat, namun kerap harus dilalui, meski akhirnya hanya kaum laki-laki yang dominan turun keluar untuk berbelanja kebutuhan pokok seminggu sekali. Terkadang, bila terpaksa turun, perempuan terpaksa harus menggendong anak sekaligus membawa belanjaan dengan

Select target paragraph3