SUMAT E R A
N menuturkan, “Tidak berapa lama berselang, mulai terjadi keributan.
Jerit dan tangis ketakutan dari kaum ibu dan anak-anak dari beberapa
rumah semakin kuat. Aparat mulai mengobrak-abrik secara paksa
beberapa rumah dan menciduk warga. Suasana desa menjadi sangat
kacau.”
J. Sihite menambahkan, “Saat itu, yang berada di rumahku hanya tiga
anak-anakku masih kecil-kecil. Aparat mengusir mereka dari rumah.
Istri saya yang baru pulang dari ladang, terkejut menyaksikan rumah
diobrak-abrik aparat dan menemui anak-anak sedang menangis dan
ketakutan di halaman rumah. Dengan menangis dan suara bergetar dia
menanyakan kenapa rumahnya diobrak-abrik, tetapi aparat dengan
entengnya mengatakan: “Tidak apa-apa, kan ada Kepala Desa dan
Camat yang menyaksikan.”
Ibu Situmorang menambahkan, “Waktu itu, aparat membongkar pintu
kamar dan mengambil sinsaw pekerja TPL kebetulan disimpan di rumah
ini. Sebelumnya aparat juga sudah membongkar lumbung padi secara
paksa tanpa saya saksikan. Selanjutnya salah seorang Polisi
menanyakan: “Di mana suami ibu?” Saya jawab “Tidak tahu.”
N menuturkan, “Pada saat yang sama, rumah Op. Rikki Nainggolan,
warga Pandumaan lainnya, juga digeledah secara paksa oleh aparat lain.
Pemilik rumah dipaksa membuka lemari dan lumbung padi. Kemudian
polisi masuk ke kamar dan menginjak-injak tempat tidur. Saat itu, saya
menyaksikan dari jarak yang tidak jauh, ada ibu orang tua dari Op. Rikki
yang berumur 95 tahun sedang terbaring sakit di kamar sampai terinjak
oleh aparat tersebut.”
Sudah menjadi kebiasaan di dua desa ini membunyikan lonceng gereja
sebagai pertanda atau pemberitahuan kepada seluruh warga apabila ada
sesuatu hal yang terjadi di desa. Biasanya, warga akan segera
berkumpul ketika mendengar lonceng gereja dibunyikan. Demikian
halnya dengan siang hari itu, kedatangan ratusan aparat dan
penangkapan warga membuat salah seorang warga, Biner Lumbangaol,
56 tahun, membunyikan lonceng gereja. Ia ditangkap polisi ketika
membunyikan lonceng Gereja HKBP.
N menjelaskan: “Warga lainnya yang saya ketahui ditangkap aparat
adalah Ama Posma Sinambela, 50 tahun. Dia ditangkap dari ladangnya
secara paksa, karena dianggap sebagai pemimpin warga. Juga, Mausin
Lumban Batu, 60 tahun, ditangkap di jalan sepulang dari acara pesta
dari desa tetangga. Padahal bapak ini, meskipun ikut berjuang dan
31