SUMAT E R A mengarahkan pistol ke arah Her dan masyarakat. Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak akan melawan petugas sambil mengangkat kedua tangan, Polhut pun berjalan sambil mengatakan “kita jangan saling ganggu.” Siangnya, pukul 14.00 WIB, masyarakat yang kebetulan berkumpul di rumah Heri waktu itu, didatangi seseorang bernama Wawan dan 4 orang lainnya yang merupakan komandan lapangan operasi gabungan Polhut. Pada pertemuan tersebut masyarakat diminta untuk mengisi daftar hadir sehingga masyarakat mengisi daftar hadir tersebut. Seusai masyarakat mengisi daftar hadir Her pun secara tidak langsung melihat, Polhut yang datang tersebut menambahkan tulisan kata “perambah” di daftar hadir yang telah ditandatangani oleh masyarakat. Ketika Polhut mau pulang, Polhut mengatakan kepada warga adat bahwa mereka diminta untuk datang pada malam hari ke pos operasi gabungan. Seusai pertemuan, Her memutuskan untuk menelpon Midi karena pada saat itu Her bingung untuk menghubungi siapa. Ketua adat tidak ada ditempat. Her menyampaikan kepada Midi, suami ibu Asmala Dewi, yang tinggal di Talang Tengah bahwa nanti malam diminta untuk datang ke Talang Cemara karena ada undangan dari Polhut untuk membicarakan sesuatu. Midi pun mengiyakan ajakan dari Her. Namun malam itu hujan turun sangat deras sehingga Midi pun tidak bisa pergi dan Heri beserta masyarakat juga tidak bisa pergi karena hujan deras. Kemudian esoknya, 23 Desember 2014, Midi pergi ke tempat Her. Midi berangkat pagi sekali dari rumah sekitar pukul 06:00 WIB dengan mengendarai motor dengan jarak tempuh 1 jam lamanya. Midi dan masyarakat menyiapkan tikar di halaman rumah karena masyarakat beranggapan dialog dengan tim gabungan yang batal pada malamnya akan dilangsungkan pagi tersebut. Pada pukul 07.00 pagi tim Polhut yang dipimpin oleh Wawan (tim dari TNBBS) datang dengan cara marahmarah dan berkata: “Mengapa tidak datang malam itu?” Masyarakat menjawab karena malam itu kondisinya tidak memungkinkan, hujan begitu besar. Seketika, terdengar tembakan ke udara. Pembakaran dangau masyarakat oleh Polhut tetap dilakukan sehingga empat warga, antara lain suami Asmala Dewi yaitu Midi bersama 3 rekannya Heri, Rahmat, dan Suraji meminta penjelasan, tetapi tidak mendapat jawaban. Masyarakat bahkan menerima amarah Polhut dengan cara memukul Suraji dan Midi serta memborgol Heri. Namun, Midi meminta Polhut tidak memborgol. Tidak jadi memborgol Heri, akhirnya Polhut 81

Select target paragraph3