menjadi hari yang bahagia bagi kita berdua karena bisa duduk ngopi
bersama. Kenapa? Karena beliau ini harus keliling dari satu tempat ke
tempat yang lain memimpin mediasi. Terutama dengan apa yang kita
konfirmasikan pada hari ini, yaitu infrastruktur jalan tol.
Tadi pagi, saya ngobrol dengan Bapak dari Bina Marga. Saya cerita
pengalaman saya di Medan. Saya ini orang Medan, asalnya dari
Siantar, dulu bisa sampai lima jam karena harus masuk perkebunan
dan baru bisa nyampek sebelum buka puasa. Jadi sekarang
Alhamdulillah bisa menjadi tiga jam lewat jalan tol itu. Saya rasa, kalau
saya keliling berbagai provinsi beberapa orang mengatakan gini,
sebenarnya untuk perkembangan itu kita harus mengucapkan syukur
kepada Allah Swt. karena pemerintahan kita Bapak Presiden Jokowi
cukup agresif dan progresif juga mengembangkan infrastruktur. Tapi
juga kadang-kadang muncul reaksi yang keras. Saya baru dari PapuaWamena sana, dulu saya nggak dengar suara begitu sekarang “kami
nggak butuh jalan tol” nah ini mungkin lagi emosi, ya. Jadi sabarsabarlah menghadapi masyarakat Indonesia yang sangat kompleks
ini, sangat beragam. Di kampung halaman saya juga saya sampaikan,
nilai material itu bisa dipikirkan yang paling penting itu nilai
budayanya.
Saya kira setelah reformasi, orang-orang di daerah ini sudah alergi,
dengan kata-kata ganti-rugi, “masak ganti-rugi terus!”. Saya masih
ingat zaman Orde Baru dulu saya menulis artikel, kritik saya terhadap
filosofi pembangunan. Dengan menggunakan falsafah Jawa kalau
tidak salah saya kutip “jer basuki mawa beya” untuk kemakmuran
perlu pengorbanan. Tapi orang-orang pada tanya, yang menanggung
beyo-nya siapa? Masak masyakarat. Saya kira sebetulnya yang lebih
tepat itu kan sebenarnya ganti-untung.
Menarik, kemarin kami mendengar audiensi tentang kasus Kulon
Progo. Pak Gubernur DIY mengatakan, “saya nggak mau
pembangunan infrastruktur, ini merugikan dan membuat masyarakat
saya malah tambah miskin, mereka harus sejahtera”. Kemudian pada
saat itu, nilai kompensasi yang diberikan sudah jauh, tidak rugi dari
nilai pasar yang semestinya. Tetapi, kita tahu bahwa mesti ada
penolakan. Sebelum pulang dari rumah Sultan saya menyampaikan,
“Pak Gubernur saya mau satu hal lagi”, itu masih ada masjid yang
bermasalah, kalau bisa sabar-sabarlah mendekati masyarakatnya,
Hal| 45