LEMBAR KASUS:
KASUS I
KISAH TINI DI
LAPAS GARDENIA
Tini merupakan ibu rumah tangga berusia 25 tahun, memiliki seorang anak laki-laki
berusia 3 tahun. Ia menjadi Tahanan di Lapas Perempuan Kelas II A Gardenia. Pada
saat 3 (tiga) tahun lalu, ia ditangkap dirumahnya dengan tuduhan pengedar narkoba.
Tini bercerita bahwa ia hanya tamatan SMP di kampung Asih. Ia kemudian diajak oleh
pamannya ke kota untuk menjaga warung makan milik pamannya tersebut. Kemudian
ia menikah dengan Tono, laki-laki yang menjadi pelanggan tetap di warung makan
tersebut. Setelah berpacaran selama 6 bulan, Tini dan Tono kemudian menikah. Tini
tidak mengetahui secara pasti apa pekerjaan dari suaminya. Bagi Tini, yang terpenting
adalah kebutuhan hidupnya tercukupi, dan ada uang untuk kebutuhan rumah tangga,
maka ia tidak akan banyak bertanya dari mana uang tersebut berasal. Ia hanya
mengetahui suaminya punya usaha bersama-sama dengan kawannya dalam bidang EO
kecil-kecilan, kadang suaminya Tono juga bekerja sebagai makelar barang. Tini sering
diminta untuk mengantar barang/paket yang sudah terbungkus rapi ke pembeli. Tini
tidak pernah tahu apa isi paketnya tersebut. Jika dimintai tolong oleh suaminya, maka
ia akan mengantarkan paket, tanpa bertanya. Kadang Tini diberi uang tip oleh pembeli,
kadang tidak. Uang tersebut digunakan untuk tambahan kebutuhan rumah tangganya.
Setelah 1 tahun menikah, Tini pun mengandung. Ketika usia kehamilan Tini mencapai 5
bulan, tiba-tiba di rumahnya di datangi oleh polisi, dengan disaksikan oleh warga dan
ketua RT. Polisi datang pada pukul 19.00 Pada saat ditangkap, ia hanya diberikan surat
penangkapan atas nama suaminya Tono. Tetapi, pada saat itu, Tono tidak ada dirumah,
dan sudah tidak pulang selama 2 hari. Tini pun di bawa ke kantor polisi, dengan alasan
akan dimintai keterangan. Tini pun hanya terdiam dibawa ke kantor polisi dan tidak
sempat menghubungi siapa-siapa.
Ketika di kantor polisi, Tini dipaksa untuk mengatakan dimana suaminya berada. Tini
diperiksa hingga subuh, ketakutan, tubuhnya lelah, sehingga perutnya sakit. Tini hanya
ingin merebahkan badannya sejenak, tetapi tidak diijinkan oleh polisi. Pada saat siang ke
esokan harinya, ia bangun karena sangat lelah, dan diberikan 1 roti serta air minum. Tini
masih sangat lapar, dan masih belum bisa menghubungi siapapun. Siang itu Tini masih
menjalani pemeriksaan dan dipaksa untuk mengaku bahwa ia adalah pengedar narkoba
dan bekerjasama dengan suaminya yang dituduh sebagai pengedar juga. Setiap Tini
membantah, maka saat itu juga polisi memukul meja dengan keras sambil membentak
dirinya. Ia hanya bisa menangis, dan terus bentakan demi bentakan bermunculan. Tini
hanya ingat, ada 1 polisi yang kemudian menendang perutnya sambil berkata “ayo
ngaku kalau kamu ikut ngebantu suami jadi pengedar narkoba, kalau tidak kamu akan
MANUAL FASILITATOR Modul Pelatihan Npm 5 Lembaga | 35