BAB IV D I N A M I K A L I N G K U N G A N S T R AT E G I S 3) Globalisme Paul James mendefinisikan globalisme “sebagai ideologi dominan dan subjektivitas yang terkait dengan berbagai formasi cakupan global yang dari dulu selalu mendominasi. Definisi tersebut bermakna bahwa globalisme dan globalisasi pra-modern dan tradisional sudah ada jauh sebelum kapitalisme menguasai semua penjuru dunia, contohnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-2 M dan bangsa Yunani abad ke-5 SM.”4) Agaknya, kosmopolitanisme, internasionalisme, dan globalisme lebih tepat untuk dilihat sebagai sebuah garis kontinum yang menjelaskan evolusi cara pandang manusia terhadap dinamika dunia yang besar, daripada dilihat sebagai kondisi-kondisi atau paham-paham yang bertentangan satu dengan lainnya. Mungkin dalam periode dunia abad 14-16, di mana Kesultanan Aceh maju pesat, maka cara pandang dunia yang paling maju adalah kosmopolitanisme. Lalu, pada awal periode politik Republik Indonesia, pada awal abad 20, maka cara pandang dunia yang disebut maju adalah internasionalisme. Sedangkan pada periode awal abad 21 ini, maka cara pandang dunia yang mutakhir adalah globalisme. Gambar 2 : Nasionalisme Dalam Kepungan REGIONALISM E, SUPRA NASIONAUSME NASIONALISME GLOBAUSME LO KALISME : ETNO NASIONAUSME 4) James, Paul; Steger, Manfred B. 2010. Globalization and Culture, Volume IV: Ideologies of Globalism. London: Sage Publications. “... ilmuwan politik Amerika Serikat Joseph Nye, perintis teori hubungan internasional neoliberalisme, berpendapat bahwa globalisme mengacu pada gambaran dunia yang memiliki jaring hubungan lintas benua, sedangkan globalisasi mengacu pada peningkatan atau penurunan tingkat globalisme. Konsep yang lebih umum ini kurang diterima kalangan ilmuwan. https://id.wikipedia.org/wiki/Globalisme Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional I 65

Select target paragraph3