BAB IV
D I N A M I K A L I N G K U N G A N S T R AT E G I S
BAB IV
Dinamika Lingkungan
Strategis
N
ampaknya kehidupan pada abad 21 sepenuhnya berlandaskan
pada kesadaran global, yang mana lokal menjadi subyek yang
sangat dipengaruhi oleh dinamika global --dan hampir tipis
kemungkinan, kecuali ada keajaiban-- bagi lokal untuk menjadi faktor
yang dapat mempengaruhi secara signifikan terhadap perubahan pada
tataran global. Bahkan ada kecenderungan sesuatu yang lokal terserap ke
atau menghilang di dalam yang global, lalu menjelma menjadi fenomena
kultural baru yang relatif homogen. Orang dapat saja mengatakan bahwa
diriya berada pada posisi atau hidup dalam konteks lokal atau nasional,
akan tetapi sesungguhnya, tanpa disadari bahwa ia sedang berada pada
salah satu sudut atau bagian dari apa yang disebut global itu.
Namun, jauh sebelum wacana globalisasi berkembang, Bung Karno pernah
mengatakan bahwa yang ia maksudkan dengan internasionalisme adalah
bukan kosmopolitanisme.
“Tetapi djikalau saja katakan internasionalisme, bukanlah
saja bermaksud kosmopolitanisme, jang tidak mau adanja
kebangsaan, jang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada
Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika
dan lain-lainnja.”1)
Dalam konteks awal abad 21 ini, apakah kita dapat mengatakan bahwa
internasionalisme bukanlah globalisme? Mungkin secara sederhana,
Soekarno mencari konteks di mana nasionalisme atau rasa kebangsaan
dapat hidup dan berkembang, yang merupakan kebutuhan pokok bagi
kehidupan berbangsa yang baru terbentuk pada periode waktu tersebut.
Dalam hal ini, menurut pandangan Soekarno bahwa internasionalisme
memberikan tempat bagi perkembangan nasionalisme; dan sebaliknya,
kosmopolitanisme justru meniadakan tempat untuk nasionalisme atau
1) Siswo, 2014:487.
Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional
63