BAB II
NASIONALISME
pendiri negara memikirkan tentang dasar negara, yang dalam kalimat
Soekarno: ‘Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas
“Weltanschauung” apa?’22)
Dalam lain kata, nasionalisme Indonesia tidak dapat hidup subur bila
tidak mempertimbangkan tatanan nilai yang secara internasional telah
mendapatkan pengakuan dari negara-negara di dunia, dalam hal ini adalah
perihal hak asasi manusia, yang mana Baderin mengatakan:
“Di dunia sekarang ini, konsep hak asasi manusia (HAM)
mempengaruhi semua aspek hubungan internasional dan
melintasbatasi semuaaspek hukum internasional kontemporer.
Ia merupakan tujuan internasional penting yang melingkupi
semua tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Serupa
halnya, organisasi-organisasi antar-pemerintah regional juga
mengakui konsep hak asasi manusia, dan beragam organisasi
hak asasi non-pemerintah secara konsisten mengecam keras
pelanggaran hak asasi manusia oleh negara. Perlindungan hak
asasi manusia menjadi alat penting internasionalisme yang
menyibak hijab ‘kudus’ kedaulatan negara demi kehormatan
manusia.”23)
Apalagi, bila kita pahami dan sadari bahwa pelanggaran hak asasi manusia
berimplikasi pada kemunculan perbedaan atau dapat mendestruksi 24)
pengalaman bersama atau memori kolektif 25) antar warganegara, kelompok,
22) Lihat Iwan Siswo, 2014:478. Jilid III.
23) Bila kita mengacu pada istilah yang digunakan oleh Hatta, berarti: “negara penguasa” sudah mati,
dan muncul “negara pengurus”. Lihat Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Manusia dan Hukum
Islam. Jakarta: Komnas HAM RI, 2013. Halaman 1.
24) destruksi/des·truk·si/ /déstruksi/ n perusakan; pemusnahan; penghancuran; pembinasaan.
http://kbbi.web.id/destruksi
25) Menurut Halbwachs, memori adalah sebuah penampakan sosial yang isi dan kegunaanya dijelaskan melalui interaksi dengan orang lain dalam bentuk bahasa, tindakan, komunikasi dan dengan ungkapan emosi-emosi pada konfigurasi keberadaan sosial kita. [2] Ingatan terbentuk melalui dialog dalam kelompok sosial, seperti halnya sebuah ingatan yang terbesar atau bagian kenangan yang terkuat
akan menjadi ingatan yang resmi di dalam kelompok tersebut.[2] Halbwachs melengkapi frasa “kita
adalah yang kita ingat” menjadi “kita adalah apa yang kita miliki” dengan sangat yakin mengembang-
20
Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional