BAB II NASIONALISME Kedua, adalah titik ekstrim chauvinisme: Indonesia uber Alles! Perihal ini Soekarno mengatakan: ‘Saudara-saudara. Tetapi ............. tetapi .......... memang prinsip kebangsaan ini ada bahajanja ! Bahajanja ialah mungkin orang meruntjingkan nasionalisme mendjadi chauvinisme, sehingga berfaham “Indonesia uber Alles”.’ 9) Meskipun demikian, adalah hal yang sangat penting untuk mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Kahin, bahwa nasionalisme itu tumbuh dengan dua akarnya, yakni: pertama dipengaruhi oleh kemarakan kebangkitan nasionalisme dunia yang anti terhadap kolonialisme; dan kedua, juga tidak terlepas dari latarbelakang historisnya hingga jauh ke masa lalu, sebelum kemunculan kolonialisme itu sendiri, yang mana hal ini juga menjelaskan lingkungan strategis pada waktu lahirnya Pancasila. “Walaupun nasionalisme Indonesia mutakhir terutama berakar dari kondisi abad ke-20, sebagian akar terpenting justru menjalar hingga ke dalam lapisan sejarah yang jauh lebih tua.” 10) Dalam konteks ini, bandul (Gambar 3) tersebut menjelaskan dua hal berikut ini. Pertama, apabila bandul bergerak ke kiri menjelaskan fenomena melemahnya kesadaran berideologi Pancasila dan, pada saat yang sama, kesadaran bergolongan semakin menguat.11) Dalam lain kata, 8) Soeripto, Indoktrinasi Republik Indonesia. Surabaya: Grip, Tt. Halaman 30. 9) Soeripto, Tt:32.Chauvinisme adalah “...menunjuk pada kesukaan berperang dan pengabdian yang penuh pada negara atau pemimpin, ketika cukup xenophobic.” Lihat Scrutton, Kamus Politik. Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2013. Halaman 122. 10) Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Depok: Komunitas Bambu, 2013. Halaman 1. 11) Weber mengatakan: “... sentimen solidaritas etnis tidak dengan sendirinya menciptakan sebuah “bangsa”. Namun, “...sebuah kelompok orang di bawah kondisi tertentu bisa mencapai kualitas sebagai sebuah bangsa melalui perilaku spesifik, atau mereka bisa menyatakan kualitas tersebut sebagai sebuah “pencapaian” -- dalam rentang waktu pendek pencapaian itu.” Weber, 2009:208-209. Indonesia memiliki pengalaman politik yang berkenaan dengan ketika menguatnya kesadaran kedaerahan dan golongan. Lihat Kahin, Pergolakan Daerah Pada Awal Kemerdekaan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1990. 14 Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional

Select target paragraph3