BAB I
PENDAHULUAN
juga menilai “ingatan terhadap ideologi” oleh para aparat dan pemimpin
penyelenggara negara menunjukkan kecenderungan yang negatif, melemah,
di lain pihak. Oleh karena itu, manakala spirit Pemerintah melemah dalam
mengacu pada ideologi untuk menggerakkan roda pemerintahan; justru di
lain pihak, spirit warganegara dalam berideologikan pada Pancasila semakin
menguat, meskipun publik melihat adanya fenomena kehidupan beragama
yang cenderung intoleran, hal yang mengindikasikan melemahnya
implementasi Pancasila dalam kehidupan bernegara. Padahal lazimnya,
terutama di dalam periode politik Orde Baru, justru pelaku penggerak
pemerintahan yang mengklaim dirinya memiliki rujukan yang kuat dalam
berideologi, sementara masyarakat luas atau warganegara pada umumnya,
dianggap sangat lemah dalam mempraktekkan ideologi negara di dalam
kehidupan sehari-hari. Ada kontradiksi-kontradiksi antara lapisan elite
dan lapisan sosial pada umumnya dalam hal berideologi pada Pancasila.
Masalahnya, apakah ada afinitas positif (Gambar 1) atau afinitas
negatif (Gambar 2) antara implementasi Pancasila,12) penegakan Hak
Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional? Hal itu dapat dirumuskan
sebagaimana berikut ini dengan menggunakan model causal loop 13)
tentang kedua kecenderungan tersebut, terutama seturut dengan pendapat
kaum intelektual dan publik bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila
belum optimal, dan negara hukum belum maujud, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa penegakan hak asasi manusia belum optimal dan
ketahanan nasional dengan sendirinya belum tangguh.
12) The term “elective affinities” is based on the older notion of chemical affinities. In the late 19th
century, German sociologist Max Weber, who had read the works of Goethe at the age of 14, used
Goethe’s conception of human “elective affinities” to formulate a large part of sociology.[4] [5] In
early nineteenth century chemistry, the phrase “elective affinities” or chemical affinities was used to
describe compounds that only interacted with each other under select circumstances. Goethe used
this as an organizing metaphor for marriage, and for the conflict between responsibility and passion.
https://en.wikipedia.org/wiki/Elective_Affinities
13) Dinamika Sistem (Bahasa Inggris: System dynamics) adalah suatu metode pemodelan yang
diperkenalkan oleh Jay Forrester pada tahun 1950-an dan dikembangkan di Massachusetts Institute
of Technology Amerika. Sesuai dengan namanya, penggunaan metode ini erat berhubungan dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang tendensi-tendensi dinamik sistem-sistem yang kompleks, yaitu pola-pola tingkah laku yang dibangkitkan oleh sistem itu dengan bertambahnya waktu. Asumsi utama
dalam paradigma dinamika sistem adalah bahwa tendensi-tendensi dinamik yang persistent (terjadi
terus menerus) pada setiap sistem yang kompleks bersumber dari struktur kausal yang membentuk
sistem itu. Oleh karena itulah model-model dinamika sistem diklasifikasikan ke dalam model matematik kausal (theory-like). Untuk mengetahui perihal causal loop, lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/
Dinamika_Sistem
Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional
7