signifikan bila kondisi adanya disparitas sosial ekonomi antarwilayah Indonesia tidak
ditangani secara serius. Wilayah Indonesia bagian Timur dengan tingkat ketersediaan
tenaga medis khusus anak yang masih terbatas serta akses geografis yang cenderung sulit
untuk dilalui menyebabkan kondisi pemenuhan hak atas kesehatan anak menjadi semakin
sulit untuk dilakukan. Fokus program kesehatan anak yang masih bertumpu pada wilayah
Indonesia bagian Barat atau pada wilayah pusat ekonomi. Hal ini dapat dikategorikan
sebagai bentuk diskriminasi tidak langsung, sebagaimana dinyatakan dalam Paragraf 19
Komentar Umum Kovenan Hak Ekosob Nomor 14, bahwa ketidaktepatan alokasi
sumberdaya kesehatan dapat berdampak pada diskriminasi yang tidak terelakkan.
Upaya pemerataan sumber daya terkait pemenuhan kesehatan anak harus terus diwujudkan
secara progresif yang artinya terus mengalami perbaikan dan peningkatan. Namun hal ini
tidak dapat diartikan sebagai suatu perbaikan angka atau indikator semata. Perbaikan yang
signifikan harus dapat tercapai sebagaimana tercantum pada Pasal 24 Ayat (4) Konvensi
Hak Anak serta konsep hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai (the highest
attainable standard of health).
Tingginya Prevalensi Anak Merokok
Nicotiana Tabacum dan Nicotiana Rustica adalah dua spesies utama dari tembakau. Di
dalamnya terdapat zat nikotin-alkaloid yang mudah menguap. Nikotin inilah yang
bertanggung jawab sebagai stimulan yang paling menciptakan efek ketagihan. Pengaruh
nikotin menjalari seluruh organ tubuh,
mengikat reseptor sistem saraf pusat dan
membangkitkan kadar dopamin yang menciptakan adiktif pada otak. 187 Tidak berhenti
sampai di sini, selain nikotin yang menjadikan adiktif, di dalam rokok ditambahkan pula
bahan-bahan kimia berbahaya lainnya 188 yang menyebabkan pelemahan performa
kesehatan secara umum pada tubuh.
Dengan zat yang terkandung di dalamnya, telah nyata bahwa nikotin berdampak buruk
terhadap perkembangan otak remaja, 189 berpengaruh pada kinerja akademis pada otak
remaja,190 hingga bertanggungjwab terhadap terciptanya defisit kognitif pada otak.191 Berada
dalam tahap perkembangan, anak dan remaja sangat rentan terhadap kecanduan nikotin
dalam rokok. Sebuah studi menjelaskan hubungan kausalitas antara adiksi nikotin pada usia
187
Arvind Muthukrishnan dan Saman Warnakulasuriya, “Oral Health Consequences of Smokeless Tobacco Use”
(2018) 148(1) The Indian Journal of Medical Research 35.
188
Nyo Nyo Kyaing, Aye Aye Sein dan MM Than Htike, “Smokeless Tobacco Use in Myanmar” (2012) 49(4)
Indian Journal of Cancer 350.
189
U.S. Department of Health and Human Services, The Health Consequences of Smoking—50 Years of
Progress. A Report of the Surgeon General (US Department of Health and Human Services, Centers for Disease
Control and Prevention, National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, Office on
Smoking and Health 2014).
190
Pierre-Olivier Robert and others, “Academic Performance and Adolescent Smoking in 6 European Cities: The
Role of Friendship Ties” (2018) 24(1) International journal of adolescence and youth 125.
191
Jorien L Treur and others, ‘Smoking During Adolescence as a Risk Factor for Attention Problems’ (2015) 78
Biological psychiatry (1969), 656.
71