kependudukan masih bermasalah bagi sejumlah anggota komunitas adat, termasuk tidak
dicatatkannya karena alasan identitas agama maupun tempat tinggal (berada di kawasan
hutan atau perpindahan tempat tinggal). Selain itu, pendekatan “wilayah kerja” (zona) dalam
pelayanan kesehatan, menyebabkan masyarakat adat yang menjadi anggota JKN tidak
dapat menggunakannya, karena waktu dan jarak tempuh dari tempat tinggal menuju faskes
relatif jauh dan beberapa masyarakat adat masih ada yang hidup berpindah-pindah.
Belum adanya pengakuan atas keberadaan masyarakat adat oleh Negara serta stigmatisasi
yang dialami komunitas masyarakat adat juga menghambat aksesibilitas mereka pada
layanan kesehatan. Menurut LIPI, stigmatisasi terhadap cara hidup komunitas masyarakat
adat menyebabkan pelayanan kesehatan tidak optimal. Stigma ‘terbelakang’ dari
masyarakat umum pada masyarakat adat berimplikasi pada ketidakadilan dalam aspek
aksesibilitas hak atas kesehatan.151
F. Orang Dengan HIV/AIDS
HIV/AIDS telah menjadi epidemi global, termasuk di Indonesia. Laporan kasus baru terus
meningkat setiap tahunnya, namun sulit untuk mengetahui jumlah infeksi HIV/AIDS yang
sebenarnya ada. Estimasi perhitungan jumlah ODHA di Indonesia sangat variatif. Estimasi
perhitungan sampai Maret 2020 lalu, jumlah ODHA di Indonesia terhitung sebesar 470.683
orang, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 640.433 ODHA. Setelah
diadakan rekalkukasi estimasi ODHA tahun 2020, didapatkan angka sebanyak 511.955
orang, dengan rincian orang dengan HIV berjumlah 388.724 orang dan orang dengan AIDS
berjumlah 123.321 orang. Provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi adalah DKI Jakarta,
Jawa Timur, Jawa Barat, Papua dan Jawa Tengah. Sementara provinsi dengan jumlah
kasus AIDS tertinggi adalah Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Bali. 152
Perkembangan tingkat prevalensi HIV/AIDS di Indonesia hingga saat ini masih cukup tinggi,
yaitu sebesar 0,33%.153
Dari seluruh estimasi jumlah ODHA sampai dengan Maret 2020, jumlah kumulatif ODHA
yang masuk perawatan sebanyak 378.225 orang; jumlah kumulatif ODHA yang sedang
mendapatkan pengobatan ARV (Antiretroviral) sebanyak 133.358 orang; dan jumlah
kumulatif ODHA yang lost to follow up (putus obat) sebanyak 60.744 orang (21%).
Kemudian persentase HIV/AIDS banyak ditemukan pada transmisi/kelompok heteroseksual,
homoseksual dan penggunaan jarum suntik, penularan melalui perinatal. 154 Dari data di
atas dapat dikatakan bahwa kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan dengan kasus banyak terjadi di kota-kota besar. Meskipun setiap ODHA bisa
mendapatkan pengobatan dini sesuai dengan kebutuhannya, namun saat ini muncul tren
151
Yogaswara (n 141).
152
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, “Laporan
Perkembangan HIV AID dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan 1 Tahun 2020 (Maret 2020)”
(2020).
153
Pungkas Bahjuri Ali, “Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Hak atas Kesehatan bagi Kelompok Rentan,”
dipaparkan pada acara Diskusi Daring kepada Komnas HAM RI tanggal 15 September 2020 (Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional 2020).
154
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (n 152).
58