kesehatan, dan transportasi.143 Keterpencilan akses geografis yang dialami masyarakat adat juga semakin diperparah dengan menyempitnya kawasan adat sebagai tempat tinggal mereka seperti kawasan hutan. Hal ini mengakibatkan selain akses pada layanan kesehatan, akses terhadap pemenuhan gizi, obat-obatan dari alam, pangan, dan sumber daya air terhambat. Kasus kelaparan terjadi pada masyarakat adat seperti pada Orang Rimba di Duabelas Jambi pada tahun 2015144 dan di Kabupaten Bintang, Papua pada tahun 2018145. Selain itu, tantangan masyarakat adat dalam mengakses dan mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak terkait dengan faktor adat kebiasaan, kepercayaan dan faktor sosial budaya. Faktor sosial budaya yang memengaruhi perilaku kesehatan ibu dan anak sangat kompleks, antara lain:146  Kepercayaan terhadap obat obatan tradisional dan tokoh yang dianggap dapat menyembuhkan penyakit (dukun) yang sudah turun temurun  Adanya anggapan tenaga kesehatan dianggap sebagai orang luar, sehingga tidak dengan mudah bisa diterima oleh masyarakat. Praktik kesehatan nonmedis masih diterapkan oleh sebagian besar masyarakat adat. Praktik kesehatan ini berasal dari pengetahuan lokal yang sudah turun-temurun dan berkembang sebagai kearifan dan adaptasi selama ratusan tahun. Pada kelompok masyarakat seperti Orang Rimba di Jambi, aspek pencegahan lebih diutamakan dibandingkan dengan pengobatan. Hal ini terkait dengan sistem kepercayaan mereka tentang penyebab sakit yang di antaranya berasal dari penularan dari orang lain. Pencegahan ini bahkan sudah menjadi sesuatu yang dianggap penting, sehingga mereka harus memisahkan diri dari dunia terang yang konon dipercaya sebagai sumber dan asal penyakit. Prinsip pencegahan ini, sebenarnya juga bermakna politis, terutama untuk menjaga otonomi mereka dari pengaruh dunia luar. Hal inilah yang menyebabkan Orang Rimba enggan untuk berobat ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di luar kelompoknya. 147 Masyarakat Adat menggunakan kecerdasan lokal sesuai keadaan dan kemampuannya yang telah diturunkan dari waktu ke waktu. Peran orang terpercaya di tingkat lokal dengan kecerdasan berbasis budaya lokal menjadi penting dalam perawatan kesehatan ibu dan anak. Temuan dalam paparan tentang Etnografi Kesehatan 143 ibid. 144 Syaipul Bakhori, “Kelaparan, 11 Orang Rimba Meninggal di Jambi” (Tempo, 2015) <https://nasional.tempo.co/read/646497/kelaparan-11-orang-rimba-meninggal-di-jambi/full&view=ok> diakses 20 Oktober 2020. 145 Ayomi Amindoni, “‘Kelaparan’ dan wabah campak di Papua menyebar, korban jiwa hampir 100 orang” (BBC News Indonesia, 2018) <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42758636> diakses 20 Oktober 2020. 146 Herry Yogaswara, “Situasi dan Kondisi Pemenuhan dan Perlindungan Hak Atas Kesehatan Bagi Masyarakat Adat,” dipaparkan pada acara diskusi daring kepada Komnas HAM RI tanggal 7 Oktober 2020 (Pusat Penelitian Kependudukan LIPI 2020). 147 Direktorat Perlindungan dan Kesejahteraan Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Masyarakat Adat di Indonesia: Menuju Perlindungan Sosial yang Inklusif (Direktorat Perlindungan dan Kesejahteraan Masyarakat Kementeriaan PPN/Bappenas 2013) 27. 56

Select target paragraph3