„ PEMENUHAN HAK KELOMPOK MINORITAS DAN RENTAN DI INDONESIA HAM merujuk pada Pasal 91 ayat (1) huruf a sampai dengan e UU No 39 Tahun ϭϵϵϵƚĞŶƚĂŶŐ,DLJĂŝƚƵ͚WĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶĂƚĂƐƉĞŶŐĂĚƵĂŶŬĞƉĂĚĂ<ŽŵŶĂƐ,DƟĚĂŬ ĚŝůĂŬƵŬĂŶĂƚĂƵĚŝŚĞŶƟŬĂŶĂƉĂďŝůĂ͗;ĂͿƟĚĂŬŵĞŵŝůŝŬŝďƵŬƟĂǁĂůLJĂŶŐŵĞŵĂĚĂŝ͕;ďͿ materi pengaduan bukan masalah pelanggaran hak asasi manusia, (c) pengaduan ĚŝĂũƵŬĂŶĚĞŶŐĂŶŝƟŬĂĚďƵƌƵŬĂƚĂƵƚĞƌŶLJĂƚĂƟĚĂŬĂĚĂŬĞƐƵŶŐŐƵŚĂŶĚĂƌŝƉĞŶŐĂĚƵ͕ ;ĚͿƚĞƌĚĂƉĂƚƵƉĂLJĂŚƵŬƵŵLJĂŶŐůĞďŝŚĞĨĞŬƟĨďĂŐŝƉĞŶLJĞůĞƐĂŝĂŶŵĂƚĞƌŝƉĞŶŐĂĚƵĂŶ͕ dan (e) sedang berlangsung penyelesaian melalui upaya hukum yang tersedia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Fungsi Pemantauan dan Penyelidikan Pemantauan Lapangan Pelaksanaan pemantauan lapangan merupakan salah satu mekanisme yang diatur dalam pasal 89 ayat (3) UU HAM sebagai salah satu upaya dalam penanganan kasus pelanggaran HAM yang dilaporkan. Proses ini dilakukan sebagai makanisme pengumpulan fakta dan keterangan untuk memperkuat analisis, kesimpulan dan rekomendasi yang akan disampaikan Komnas HAM. Meskipun demikian, terbatasnya ĂůŽŬĂƐŝ ĂŶŐŐĂƌĂŶ ĚĂŶ ƐƵŵďĞƌ ĚĂLJĂ ŵĂŶƵƐŝĂ LJĂŶŐ ĚŝŚĂĚĂƉŝ ŵĂŬĂ ƉĞƌůƵ ĚŝƐŝĂƐĂƟ dengan kriteria yang ketat. Beberapa indikatornya adalah peristiwa tersebut ŵĞŵƉƵŶLJĂŝĚĂŵƉĂŬŬŽƌďĂŶLJĂŶŐĐƵŬƵƉďĞƐĂƌ͕ƉĞƌŝƐƟǁĂLJĂŶŐŵĞŶŐĂŶĐĂŵŶLJĂǁĂ ;ŬĞŵĂƟĂŶͿĚĂŶŵĞŶĚĂƉĂƚŬĂŶƉĞƌŚĂƟĂŶƉƵďůŝŬ͘^ĞůĂŵĂϮϬϭϲ͕<ŽŵŶĂƐ,ĂŵŵĞůĂŬƵŬĂŶ 137 pemantauan lapangan. Data kunjungan dan pemantauan lapangan tersebut ĚĂƉĂƚĚŝůŝŚĂƚƉĂĚĂŐƌĂĮŬƌĞŬĂƉŝƚƵůĂƐŝŬĞŐŝĂƚĂŶƉĞŵĂŶƚĂƵĂŶůĂƉĂŶŐĂŶďƵůĂŶ:ĂŶƵĂƌŝ – Desember 2016 berikut: 56 Laporan Tahunan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KOMNAS HAM) 2016

Select target paragraph3