PEMENUHAN HAK KELOMPOK MINORITAS DAN RENTAN DI INDONESIA
(2) melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional dan (3) merebaknya
ŝŶƚŽůĞƌĂŶƐŝĚĂŶŬƌŝƐŝƐŬĞƉƌŝďĂĚŝĂŶďĂŶŐƐĂ͘EĂŵƵŶŚŝŶŐŐĂƚĂŚƵŶŬĞƟŐĂƉĞŵĞƌŝŶƚĂŚĂŶ
:ŽŬŽtŝĚŽĚŽĚĂŶ:ƵƐƵĨ<ĂůůĂŚĂůͲŚĂůLJĂŶŐĚŝƐĞďƵƚŬĂŶĚĂůĂŵǀŝƐŝŵŝƐŝƚĞƌƐĞďƵƚŵĂƐŝŚ
belum banyak berubah. Nawa Cita yang digaungkan belum menjadi satu komando
bagi daerah-daerah di bawahnya. Praktek intoleransi masih kerap terjadi.
Pada 2016 Komnas HAM mengeluarkan sebuah laporan awal “Upaya Negara
Menjamin Hak-Hak Kelompok Minoritas di Indonesia”. Dalam temuan laporan
tersebut, ditemukan bahwa konsep Minoritas juga dipahami dengan berbagai cara
oleh Kementerian/Lembaga Pemerintah. Misalnya, Kementerian Sosial, memberikan
ĚĞĮŶŝƐŝŬĞůŽŵƉŽŬŵŝŶŽƌŝƚĂƐƐĞďĂŐĂŝďĂŐŝĂŶĚĂƌŝWĞŶLJĂŶĚĂŶŐDĂƐĂůĂŚ<ĞƐĞũĂŚƚĞƌĂĂŶ
^ŽƐŝĂů ;WD<^Ϳ͘ ^ĞƉĞƌƟ LJĂŶŐ ƚĞƌŵĂŬƚƵď ĚĂůĂŵ WĞƌŵĞŶƐŽƐ EŽ͘ ϴ ƚĂŚƵŶ ϮϬϭϮ LJĂŶŐ
menyebut, ͘͘͘͞ŬĞůŽŵƉŽŬ ŵŝŶŽƌŝƚĂƐĂĚĂůĂŚŬĞůŽŵƉŽŬLJĂŶŐŵĞŶŐĂůĂŵŝŐĂŶŐŐƵĂŶ
ŬĞďĞƌĨƵŶŐƐŝĂŶ ƐŽƐŝĂůŶLJĂ ĂŬŝďĂƚ ĚŝƐŬƌŝŵŝŶĂƐŝ dan marginalisasi yang diterimanya
ƐĞŚŝŶŐŐĂ ŬĂƌĞŶĂ ŬĞƚĞƌďĂƚĂƐĂŶŶLJĂ ŵĞŶLJĞďĂďŬĂŶ ĚŝƌŝŶLJĂ ƌĞŶƚĂŶ mengalaŵŝŵĂƐĂůĂŚƐŽƐŝĂů͕ƐĞƉĞƌƟŐĂLJ͕ǁĂƌŝĂ͕ĚĂŶůĞƐďŝĂŶ͘<ƌŝƚĞƌŝĂŬĞůŽŵƉŽŬŵŝŶŽƌŝƚĂƐ͗ĂͿ
gangguan ŬĞďĞƌĨƵŶŐƐŝĂŶƐŽƐŝĂů͖ďͿĚŝƐŬƌŝŵŝŶĂƐŝ͖ĐͿŵĂƌŐŝŶĂůŝƐĂƐŝ͖ĚĂŶĚͿďĞƌƉĞƌŝůĂŬƵ
ƐĞŬƐŵĞŶLJŝŵƉĂŶŐ͘͟ Berbeda dengan Kementerian Sosial, Komnas HAM menemukan
bahwa di tingkat daerah, Dinas Sosial Provinsi DI Yogyakarta justru memiliki
perluasan cakupan dengan memasukan unsur dalam pasal 27 Kovenan Hak Sipil dan
WŽůŝƟŬĂƚĂƵhhEŽ͘ϭϮdĂŚƵŶϮϬϬϱ͕ĚĞŶŐĂŶŵĞŶLJĞďƵƚŬĂŶ͗ϭϮ͘͘͘͞<ĞůŽŵƉŽŬ DŝŶŽƌŝƚĂƐ
ĂĚĂůĂŚŝŶĚŝǀŝĚƵĂƚĂƵŬĞůŽŵƉŽŬLJĂŶŐƚŝĚĂŬĚŽŵŝŶĂŶĚĞŶŐĂŶĐŝƌŝŬŚĂƐďĂŶŐƐĂ͕
ƐƵŬƵďĂŶŐƐĂ͕ ĂŐĂŵĂĂƚĂƵďĂŚĂƐĂƚĞƌƚĞŶƚƵLJĂŶŐďĞƌďĞĚĂĚĂƌŝŵĂLJŽƌŝƚĂƐƉĞŶĚƵĚƵŬ
ƐĞƉĞƌƟǁĂƌŝĂ͕ŐĂLJĚĂŶůĞƐďŝĂŶ͘ <ƌŝƚĞƌŝĂ͗;ĂͿdŝĚĂŬĚŽŵŝŶĂŶĚĞŶŐĂŶĐŝƌŝŬŚĂƐ͕ƐƵŬƵ
ďĂŶŐƐĂ͕ĂŐĂŵĂĂƚĂƵďĂŚĂƐĂƚĞƌƚĞŶƚƵLJĂŶŐďĞƌďĞĚĂ ĚĂƌŝŵĂLJŽƌŝƚĂƐƉĞŶĚƵĚƵŬ͖;ďͿ
DĞŵƉƵŶLJĂŝ ƉĞƌŝůĂŬƵ ŵĞŶLJŝŵƉĂŶŐ. Selain itu, Kementerian Dalam Negeri dalam
Permendagri No. 27 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian
dan Evaluasi Kerja Rencana Kerja Pembangunan Daerah tahun 2015, memasukkan
Kelompok Minoritas sebagai bagian dari masyarakat tuna sosial yaitu waria, gay,
ůĞƐďŝĂŶ͕ŽƌĂŶŐĚĞŶŐĂŶ,/sͲ/^͘^ĞĚĂŶŐŬĂŶ<ĞŵĞŶƚĞƌŝĂŶ<ĞƐĞŚĂƚĂŶƟĚĂŬŵĞŵŝůŝŬŝ
ĚĞĮŶŝƐŝLJĂŶŐĐƵŬƵƉũĞůĂƐ͕ŶĂŵƵŶƚĞƌůŝŚĂƚĚĂƌŝƉƵďůŝŬĂƐŝŶLJĂ͕ŵĂŬĂŬĞůŽŵƉŽŬŵŝŶŽƌŝƚĂƐ
atau kaum minoritas adalah mereka yang dianggap “sulit dijangkau” termasuk suku
asli dan keluarganya.
Dalam catatan Komnas HAM, untuk Kelompok Minoritas terkait penikmatan
ŚĂŬͲŚĂŬ ƉĞŶLJĂŶĚĂŶŐ ĚŝƐĂďŝůŝƚĂƐ͕ ĂĚĂ ƉĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶ LJĂŶŐ ĐƵŬƵƉ ƐŝŐŶŝĮŬĂŶ LJĂŶŐ
ŵĞŶŐŝƐLJĂƌĂƚŬĂŶƉĞƌŚĂƟĂŶŶĞŐĂƌĂƚĞƌŚĂĚĂƉƉĞŶLJĂŶĚĂŶŐĚŝƐĂďŝůŝƚĂƐƚĞƌƵƚĂŵĂŬĞƉĂĚĂ
penyandang disabilitas berat. Diratifikasinya Konvensi Internasional Hak-hak
Penyandang Disabilitas (ICRPD) melalui UU No 19 Tahun 2011. merupakan salah
ƐĂƚƵďĞŶƚƵŬƉĞƌŚĂƟĂŶEĞŐĂƌĂ͘<ĞďŝũĂŬĂŶůĂŝŶĚĂůĂŵďĞŶƚƵŬWƌŽŐƌĂŵũĂŵŝŶĂŶƐŽƐŝĂů
26
Laporan Tahunan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KOMNAS HAM) 2016