Bagian I Mengelola Pelatihan Partisipatif
Dengan metode yang beragam dan sikap yang luwes, fasilitator sedapat mungkin harus
dapat membantu semua orang yang memiliki perbedaan gaya belajar tersebut untuk
menjalani proses belajar.
5.2 Reaksi Emosional dalam Proses Belajar
Setelah mempelajari suatu keterampilan, peserta kadang-kadang mengeluh, “Saya
belum seterampil seperti yang diharapkan...”; atau “Saya belum dapat benar-benar
menguasainya....”. Reaksi emosional demikian cukup lazim, alamiah, dan memang
harus dianggap sebagai bagian dari proses belajar, khususnya pada pelatihan yang
ditujukan untuk mempelajari suatu keterampilan. Yakinkan kepada peserta bahwa
mereka sedang mendaki anak tangga menuju anak tangga yang lebih tinggi. Belajar
adalah ibarat menaiki anak tangga. Meski belum menguasai keterampilan, paling tidak
peserta telah mengenali wilayah keterampilan yang perlu dipelajari lebih lanjut.
Ingatlah untuk selalu bersikap realistis bahwa pelatihan yang singkat tidak mungkin
mengangkat seseorang dari anak tangga terbawah ke anak tangga yang paling atas.
Penjelasan ini akan meletakkan reaksi emosional peserta pada tempat yang wajar, dapat
membesarkan hati peserta, dan membuat mereka menghargai kemajuan-kemajuan
yang telah mereka capai.
5.3 Menangani Sikap Negatif
Ada beberapa faktor yang melahirkan sikap negatif, termasuk faktor dari luar yang sudah
ada sebelum pelatihan berlangsung. Misalnya, desas-desus dan informasi yang keliru.
Fasilitator kadang-kadang tidak disukai karena mewakili kemapanan pihak/lembaga
tertentu. Kunci utama untuk menangani ini adalah selalu bersikap positif. Fasilitator
pun perlu memeriksa sikap dan pendapatnya terhadap peserta pelatihan.
Tetaplah bersikap antusias. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan menghadirkan
fakta dan informasi yang relevan yang menjadi pijakan peserta dalam bersikap. Tidak
perlu menceramahi peserta agar mereka bertobat. Sikap negatif akan pupus dengan
sendirinya ketika peserta mendapatkan informasi yang sesungguhnya.
5.4 Menangani Tingkah Laku Bermasalah
Masalah ini sedikit banyak berkait dengan butir sebelumnya, yakni sikap sinis dan
memusuhi, merendahkan, atau sekadar bertingkah ganjil. Dalam keadaan demikian,
tetaplah menghargai peserta sebagai manusia. Yang menjadi masalah adalah tingkah
lakunya, bukan orangnya. Belum tentu tingkah lakunya akan terus bermasalah sepanjang
waktu. Lagi pula, boleh jadi hanya fasilitator yang menganggapnya bermasalah.
Mungkin saja terdapat beberapa orang yang memiliki kecenderungan berperilaku
ganjil sepanjang pelatihan. Untuk menghadapi hal yang demikian, fasilitator tidak
perlu membuang waktu hanya untuk menangani tingkah laku bermasalah satu atau
dua peserta. Tugas fasilitator adalah membantu seluruh peserta untuk menjalani proses
16
Manual Pelatihan Dasar HAM: PEGANGAN FASILITATOR