PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU ­ enemukan ­jalan pulang. Semua saksi yang ditahan di B m ­ urma, Cina, ­Singapura, dan Taiwan bersaksi bahwa mereka ditelantarkan b ­ egitu saja. Seperti yang dikatakan Song Shin-Do, “tentara tidak m ­ enginformasikan apapun” k­epada kami,dan baru kemudian kami tahu bahwa perang ­telah berakhir dari warga / masyarakat yang dipekerjakan di “comfort station” atau karena tiba-tiba tentara dan penjaga tidak terlihat lagi. Di Manchuria, Malaysia, dan Indonesia, para perempuan penyintas dilepaskan begitu saja dari “comfort stations”, menyusul kekalahan Jepang. Hanya seorang saksi saja, nona X, yang bersaksi bahwa ia diberi uang oleh menejer “comfort station” dan dibantu naik bus yang menuju ke daerah asalnya. Para penyintas masih harus menempuh kesulitan demi kesulitan dalam perjalanan pulang melewati ribuan mil daratan dan lautan, tak beruang dan beberapa diantaranya, melewati arena peperangan yang tengah berlangsung. Pak Yong-Sim bertestimoni hanya sedikit “comfort ­women” yang selamat dari pemboman Sekutu yang menewaskan penghuni ­lainnya pada “comfort station” di garis depan medan perang B ­ urma-Cina. Mereka mencari tempat berlindung, namun kemudian ­ditemukan oleh tentara Cina yang menahan mereka dan ­memperlakukan ­mereka ­sebagai tawanan perang selama satu tahun, sebelum akhirnya ­membebaskan mereka. Song Shin-Do bersaksi, ia mau meninggalkan Cina dan ­menikahi seorang tentara Jepang karena, seperti yang ­dikatakannya, “Saya tidak tahu bagaimana cara kembali ke Korea dan tidak punya uang untuk membiayai diri sendiri.” Tentara ­tersebut k­ emudian ­menelantarkannya di Jepang, tempat tinggalnya hingga kini. Ahn Buk-Soon bersaksi ia ­ditinggalkan seorang diri setelah Jepang mengirim pulang “comfort women” lainnya, yang telah melahirkan anak separo-Jepang, kembali ke Shimonoseki menggunakan kapal militer. Ia bersaksi bahwa ia ­kemudian pergi ke pegunungan Singapura, bertahan hidup sendirian selama satu tahun disana, sebelum akhirnya berhasil pulang ke daerah asalnya. Wan Aihua bersaksi, setelah dibebaskan dari penahanan, ia tetap tinggal di Cina, dan hidup dalam penderitaan. Sejumlah perempuan memutuskan tidak kembali ke negara atau kota asalnya. Ha Sang-Sook bersaksi, bahwa ia tidak ingin pulang ikut ­dengan warga Korea lainnya setelah Jepang dikalahkan. Ia menyatakan, “Apakah yang dapat saya lakukan jika pulang dengan badan ini, maka saya ­memutuskan untuk tidak pergi.” Sebuah penelitian yang ­dilakukan 134

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents