PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU empat” sampai 60 orang setiap harinya. Sebagian besar ­ testimoni menyatakan bahwa mereka harus melayani lebih dari sepuluh ­laki-laki setiap harinya. Banyak di antara mereka mengalami gangrape, atau diperkosa ­berkali-kali oleh tentara yang sama. Mardiyem bersaksi, di ­Indonesia, ia diperkosa 20 sampai 30 kali sehari, dan banyak tentara yang ­memperkosanya dua kali. Yuan Zhulin bersaksi bahwa di P ­ rovinsi Hubei, Cina, tentara m ­ engganti kondomnya sampai empat kali saat ­melakukan hubungan seks dengan dirinya. Mayoritas bersaksi mereka harus memberikan pelayanan seksual setiap hari, tanpa ada istirahat, nyaris sepanjang waktu terjaganya. Beberapa di antara mereka harus tidur dengan pemerkosanya sepanjang malam. Mardiyem bersaksi bahwa ia bekerja dari jam 12 siang sampai 5 sore, kemudian dari jam 7 hingga tengah malam, dan terkadang dari tengah malam hingga pagi. Walaupun beberapa perempuan dapat beristirahat saat menstruasi, sejumlah perempuan lainnya bersaksi mereka dipaksa tetap melayani pada masa tersebut. Beberapa saksi juga bersaksi bahwa “comfort women” yang hamil dipaksa untuk tetap bekerja sampai usia kehamilan mencapai enam, tujuh, bahkan delapan bulan. Para saksi di hadapan Pengadilan ini berulang kali bersaksi bahwa ­mereka tidak dapat menolak tentara, bahwa terpaksa menyerah t­erhadap p­erkosaan agar dapat tetap hidup, dan seperti telah ­disebutkan ­mereka disiksa dan dipukuli sebagai hukuman terhadap perlawanan dalam ­bentuk apa pun. Wan Aihua bersaksi, “Saya kira tidak ada pilihan kecuali mematuhi mereka.” Lu Mang-Mei bersaksi ia dilarang berkata “Tidak”. “Saya patuh agar tetap hidup,” ujarnya. Esmeralda Boe dan Marta Abu Bere bersaksi mereka takut orang tuanya akan dibunuh jika mereka ­menolak pergi bersama para tentara. Seperti didiskusikan di atas, sejumlah perempuan dapat menolak ­tentara, ketika sedang menstruasi, atau jika mendapat izin medis u ­ ntuk “beristirahat” karena kemaluan mereka terlalu bengkak untuk dapat dipenetrasi. Beberapa perempuan dapat memaksa tentara m ­ emakai kondom. Meskipun demikian, sejumlah perempuan lain bersaksi m ­ ereka tidak dapat melakukan ‘kontrol kecil’ itu atas tubuhnya sendiri. Song Shin-Do bersaksi para tentara kadangkala “menuntut aksi seksual yang barbar dan menguasai”. Sedangkan Yuan Zhulin tidak dapat m ­ enolak hubungan seks bahkan ketika masih berduka menangisi kematian bayi perempuannya. 124

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents