PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU sendiri ayahnya dipenggal tatkala berusaha mencegahnya diculik. ­Esmeralda Boe dari Timor Leste bersaksi 4 ­laki-laki Jepang dan satu ­lakilaki Timor Leste datang dan menyeretnya ke kendaraan mereka. Mun Pil Gi dari Korea bersaksi polisi menculik dan membawanya pergi naik truk. Saksi Korea lainnya juga bersaksi bahwa tentara atau polisi Jepang menculiknya dengan truk.Rosalind Saw dari Malaysia dan ­Suhanah dari Indonesia bersaksi pengalaman serupa. Wan Aihua dari Cina bersaksi ia ditangkap oleh tentara Jepang. Di Borneo, Polisi Khusus AL menangkap perempuan dan memaksa ­mereka masuk ke dalam “comfort stations”. Statistik yang disusun oleh Jaksa Penuntut Korea juga mengungkapkan jumlah perempuan korea belia dan dewasa yang ditangkap dan dipaksa menjadi “comfort ­women”. Penculikan anak gadis dan perempuan dewasa menjadi ciri yang sama disemua wilayah--sebagaimana telah dikonfirmasi oleh para penyintas dan para saksi ahli. Penculikan dengan sendirinya menjadi ­pengalaman traumatik bagi para perempuan itu. Saat diculik, mereka juga ­menyaksikan tindak kekerasan yang traumatis seperti p­emerkosaan ibunya atau pemenggalan ayahnya. Beberapa bahkan diperkosa di ­hadapan keluarganya. Tindak kekerasan yang menyertai penculikan ­sudah pasti menambah ketakutan dan ketidakberdayaan atas ­hidupnya. Tidak hanya kekerasan, sebagian besar perempuan juga mengalami ­terror dan isolasi dipisahkan dari keluarga dan dibawa pergi ketempat yang aneh dan asing serta tidak menguasai bahasanya. Metode lain mengumpulkan perempuan untuk fasilitas ­perbudakan s­eksual adalah wajib militer. Bukti-bukti memastikan adanya p ­ anggilan wajib militer untuk perempuan di Korea dan Taiwan masuk ke ­ dalam s­istem perbudakan seksual sebagai bagian dari perang. Teng Kao ­ Pao-Chu, ­ seorang saksi Taiwan, bersaksi bahwa Kantor Distrik ­mengirimkan ­surat panggilan wajib militer, memberitahu ia harus ke Provinsi ­Guangdong di Cina untuk menjadi “comfort woman”. Ia tidak ­punya pilihan. Pada saat itu ia bekerja sebagai penghibur p ­ rofesional menyanyi lagu-lagu Jepang dan menari di klub malam. Teng Kao ­P­aoChu menyatakan ­bahwa ­panggilan wajib militer untuk ­perempuan yang berkerja di bar dan ­kompleks prostitusi dan memaksa ­mereka ­menjadi ”comfort ­women” ­telah secara rutin dipraktekkan tentara Jepang. Begitu juga hanya d ­ engan perempuan Korea. Kim Bok-Dong, seorang saksi 110

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents