PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU di “­comfort station”. Ia boleh menyanyi ­dipanggung ­pertunjukan ­untuk ­tentara Jepang. Pusat “comfort” ini ­dibangun dari kayu, ­masing-masing kami mendapat satu kamar seperti di asrama. Kami bekerja dari pukul sembilan pagi s­ampai lima sore, dan biasanya mendapat lebih banyak tamu pada akhir p ­ ekan. Pada siang hari, hampir ­seluruh pengunjung ­adalah s­erdadu, s­edangkan pada malam hari, hampir semuanya ­perwira. ­Serdadu maupun p ­ erwira harus membeli tiket untuk m ­ endapatkan ­pelayanan. Kami ­dilarang melayani jika s­edang menstruasi, ­karena takut vagina atau rahim kami ­terinfeksi. Saya tidak mau melayani pas sedang menstruasi, tetapi ada beberapa serdadu yang tetap memaksa. Saya ­menolaknya dengan ­alasan sakit perut atau kebersihan. Saya memilih tetap menemani mereka, minum dan menyanyi daripada b ­ erhubungan seks. Saya rindu kepada s­ audara-saudara saya dan kangen rumah. Pada saat begitu saya lari ke gunung dan ­menyanyi sendirian. Hari demi hari,tahun demi tahun, saya s­endirian di luar negeri dan ­bertanya-­ tanya ­khawatir apa yang t­erjadi dengan negara saya. Semua saudara dan ipar saya tidak ada tahu ­tentang kehidupan saya di sini. Saya sering ­menangis saat b ­ ernyanyi, seperti b ­ urung yang t­erperangkap ­kedalam­ ­sangkar ­kehilangan ­kebebasan. Mengapa saya harus menderita di sini? Teng Kao Pao-Chu tidak bisa melarikan diri karena penjaga selalu ­bersiaga dipusat “comfort” itu. Ia bersaksi “ada banyak sekali tentara Jepang yang mengawasi kami dan tidak ada satu peluangpun untuk kami dapat melarikan diri.” Ia pulang ke Taiwan pada 1947. (c) Perbudakan Seksual Perempuan Korea belia dan Dewasa Seiring dengan meningkatnya permintaan militer Jepang akan pelayanan seksual yang sistematik, Korea juga dipandang sebagai ­ s­umber u ­ nggulan untuk membeli perempuan. Puluhan ribu p ­ erempuan ­Korea belia dan dewasa dipaksa masuk kedalam sistem perbudakan s­ eksual melalui penipuan dan kekerasan, kemudian diperkosa dan dihajar ­dengan berbagai kekerasan seksual lainnya serta ditawan di ­fasilitas “comfort” secara tidak manusiawi. Tentara Jepang merekrut ­perempuan Korea secara tidak proporsional. Seperti telah ditunjukkan di atas, Pasukan Kwantung di bawah Jenderal UMEZU mengajukan permintaan kepada Gubernur Jenderal Korea ­untuk menyediakan 20 ribu orang perempuan, namun hanya terkumpul 3.000 78

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents