Hukum
YANG BERLAKU
pasca perang telah menjelaskan bahwa sistem “comfort women” adalah
sistem perbudakan, dan seharusnya dituntut begitu. Atas desakan
para penyintas :comfort women”, istilah “perbudakan seksual” kini telah
dikenal luas. Salah satunya digunakan didalam Statuta ICC yang telah
ditandatangani lebih dari 120 negara 450. Para Hakim menyimpulkan
bahwa kejahatan tersebut tidak diragukan lagi meliputi pemahaman
tentang perbudakan, perkosaan, dan kerja paksa yang terjadi selama
Perang Dunia II.
(d) Kejahatan Perbudakan Seksual
Merupakan kewajiban Pengadilan ini untuk menimbang dan
memutuskan kejahatan perbudakan seksual karena IMTFE dan IMT
tidak mempresentasikannya. Untuk itu, kami mengkaji perkembangan
terakhir hukum kemanusiaan internasional, hukum pidana internasional,
dan hukum hak asasi manusia internasional sejauh bermanfaat untuk
menganalisis isi serta lingkup hukum yang berlaku tahun 1937 hingga
1945.
(i) Konsep Perbudakan Properti dan Kerja Paksa
Setelah mempelajari berbagai sumber hukum internasional pada 1937
sampai 1945, dapat disimpulkan bahwa perbudakan mengandung dua
bentuk subordinasi yang saling terkait: perbudakan properti dan kerja
paksa. Demikian juga perbudakan seksual, perbudakan dan kerja paksa
yang sangat mengerikan.
Perbudakan properti adalah memperlakukan seseorang sebagai obyek
atau properti yang dapat dipakai atau tidak dipakai sekehendaknya,
untuk tujuan ekonomi, rekreasional, atau kerja domestik. Seseorang
diperlakukan sebagai properti jika ia dianggap sebagai barang yang
memiliki nilai properti atau ekonomi sementara kemanusiaannya
diabaikan. Ketika tubuh seseorang diberikan kepada orang lain untuk
digunakan secara seksual, tanpa persetujuan yang sah dan tulus--yaitu
mengetahui dan rela, saat itulah perbudakan properti terjadi. Perbudakan
seksual dikatakan keji karena memakai seseorang dan mereduksinya
sebagai properti seksual, mengacaukan integritas fisik dan mental
korban pada aras yang sangat pribadi. Korban dirampas daya kendalinya
bukan saja atas tubuhnya, tapi juga aktivitas dan otonomi seksualnya,
dan itu artinya mengingkari salah satu komponen terpenting dari
223
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents