Temuan
FAKTA-FAKTA
hal berikut ini. Perkosaan di masa perang kerap terjadi di t empat-tempat
umum, barak militer, dan di depan orang banyak. Kerap dilakukan lakilaki berseragam. Pemerkosaan kerap dilakukan berkali-kali oleh satu
orang atau lebih. Sering juga kepada sekelompok perempuan sekaligus.
Pemerkosaan dengan menggunakan benda seperti pisau, tongkat,
botol, kaca dan rokok, juga lebih sering terjadi pada masa perang. Lakilaki pelaku tindak perkosaan juga kerap mengatakan kepada korbannya
bahwa tubuh mereka adalah wilayah negara lawan yang akan
dikalahkan. Belum lagi terjadinya bamyak kematian dan k esengsaraan,
yang secara signifikan memperparah trauma ; cukup banyak mereka
yang menyaksikan sendiri anggota keluarganya dibunuh, rumahnya
dihancurkan, dan lalu menderita kelaparan serta kemiskinan. Pada
mumnya perempuan-perempuan ini senantiasa dicekam perasaan
takut dibunuh atau diperkosa.
Lepa Mladjenovic menyatakan bahwa keadilan sosial amat penting
bagi pemulihan korban kekerasan seksual dalam konflik b
ersenjata,
d
emikian pula dengan dukungan keluarga dan komunitas, serta
konseling psikologi. Trauma bukan masalah pribadi perempuan, tetapi
merupakan masalah politik. Jika negara bertanggung jawab atas
terjadinya kekerasan seksual ini akan berkontribusi pada memulihkan
korban, dan sebaliknya, jika negara menolak menanggungjawabi akan
berakibat menghambat pemulihan para korban.
Para Jaksa Penuntut Korea mempresentasikan tiga kesaksian ahli
dalam bentuk tertulis. Yang pertama, Sooyun Lee (kandidat Ph.D dari
Departemen Sosiologi Medis, Universitas Nasional Seoul), m
embahas
dampak fisik jangka pendek dan jangka panjang yang diderita korban
perbudakan seksual, sebagaimana ditemukan dalam p
enelitian terhadap
14 perempuan. Tujuh dari 14 perempuan menderita dampak permanen
dari pemukulan dan trauma lainnya, seperti bekas luka, pergeseran
sendi bahu yang diabaikan, amputasi, dan gangguan pendengaran.
Studi lain menunjukkan bahwa 35.9% dari korban p
erbudakan seksual
menderita sifilis. Angka ini sangat tinggi untuk Korea, yang rata-rata
nasional-nya berkisar antara 0,3% untuk donor darah sampai 9-15%
untuk mereka yang sangat aktif dan beresiko tinggi secara seksual.
Banyak juga perempuan yang menjadi steril. Lee m
engutip Hwang Kum-
Ju, yang mengatakan bahwa sterilitas m
erupakan dampak pengikisan
rahim sebagai hasil suntikan 606 yang diberikan pada waktu hamil, dan
mengakibatkan pendarahan.
159
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents