Temuan
FAKTA-FAKTA
yang tidak teratur dan tidak adanya keakraban hubungan keluarga
mengakibatkan kesedihan yang berlarut-larut. Kim Gun-Ja juga bersaksi
bahwa ia berkelana untuk jangka waktu cukup lama, berpindah dari satu
kota ke kota lainnya bekerja sebagai pelayan dan pedagang asongan.
Sejumlah penyintas perbudakan seksual bersaksi mereka kehilangan
kemampuan merasakan kenikmatan hubungan seksual. S ebagaimana
dikatakan Jan Ruff-O’Herne, “Bagaimana Anda dapat menikmati
hubungan seksual, meski dengan suami sendiri jika Anda diingatkan
pada ratusan kali perkosaan oleh orang-orang Jepang?” Menurutnya, ia
beruntung karena suaminya amat sabar. Mardiyem dan nona X bersaksi
mereka tidak mendapatkan kenikmatan dari hubungan seksual dengan
suami mereka. Seperti telah dibahas di atas, perkawinan nona X berakhir
karena ia menolak melakukan hubungan seksual. Rosalind Saw bersaksi,
setelah kejadian-kejadian yang menimpanya, ia tidak berani melakukan
hubungan seksual dengan laki-laki karena rasa sakit yang dialaminya.
Sebagaimana telah didiskusikan di atas, banyak penyintas p
erbudakan
seksual yang bersaksi bahwa mereka tidak dapat menghasilkan
keturunan. Selain gangguan organ reproduksi,banyak diantara
mereka yang memilih tidak menikah atau tidak dapat menikah atau
tidak
dapat menjalin hubungan seksual dengan laki-laki. Sejumlah
penyintas juga dipisahkan dari anak-anaknya, yang terpaksa mereka
tinggalkan. Sebagian dari anak-anak tersebut meninggal saat mereka
ditawan di “comfort stations”. Teng Kao Pao-Chu meninggalkan anak
perempuan angkatnya dan saat ia kembali 9 tahun kemudian, tidak
dapat m
enemukannya. Song Shin-Do yang melahirkan saat bekerja
sebagai “comfort woman” dipaksa meninggalkan bayinya dengan orang
asing, sampai sekarang ia dihantui rasa bersalah karena meninggalkan
anaknya di Cina.
5. Kebisuan
Mayoritas dari penyintas perbudakan seksual dan perkosaan massal
tutup mulut tentang pengalaman mereka sampai periode 1990-an,
saat mereka mulai memecah kebisuan. Bagaimanapun sampai saat ini
masih banyak mantan “comfort women” yang tidak mau berbicara. Ini
berarti,bagi sebagian perempuan, menyembunyikan masa lalu mereka
dan bagi sebagian lainnya,hidup sendiri dengan penderitaannya.
155
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents