PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
lainnya memperkosa saya. Pada saat itu, saya sudah tidak kuat melawan.
Saya merasa sakit disekujur tubuh saya. Saya hanya dapat berbaring di
lantai. Setelah keempat orang Jepang itu pergi dari kamar, kami semua
menangis dan terjaga semalaman.”
Perempuan belia dan dewasa yang diperkosa dihantui bayangan yang
menakutkan dan menderita luka-luka fisik serta kepedihan mental
yang berkepanjangan. Mereka juga tidak beroleh kesempatan untuk
menyembuhkan diri dalam lingkungan yang aman karena komunitas
mereka telah dihancurleburkan.
Sebagai kesimpulan, bukti-bukti menunjukkan bahwa militer Jepang
telah melakukan tindak perkosaan secara sistematis dan terorganisir, dan
targetnya adalah semua gadis maupun perempuan dewasa M
apanique.
Militer Jepang mengumpulkan warga masyarakat di sebuah lokasi
(lapangan sekolah), memisahkan perempuan dan anak-anak dari para
laki-laki, kemudian membawa perempuan dan gadis-gadis ke Bahay
na Pula untuk diperkosa. Tindak perkosaan itu merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari serangan massal terhadap komunitas, yang juga
disertai penjarahan, pembakaran, pembantaian laki-laki secara massal,
dan bentuk-bentuk penyiksaan dan kekejaman lainnya.
I. KESENGSARAAN TIADA HENTI PARA PENYINTAS PERKOSAAN
DAN PERBUDAKAN SEKSUAL
Para Hakim terkesan atas ketegaran dan keberanian luar biasa para
penyintas kekerasan seksual itu, bahkan didalam menghadapi hidup
penuh penderitaan selanjutnya. Penderitaan tidak berakhir seusai
perang pun saat telah dibebaskan dari perbudakan seksual; mereka terus
menerus menghadapi kesulitan dalam usaha dan proses membangun
kembali kehidupan yang telah diporak porandakan. Seperti dikatakan
Tomasa Dioso Salinog, “Luka-luka akibat perbuatan mereka sangatlah
dalam. Saya pikir saya tidak akan mampu menanggungnya. Tapi, saya
harus bisa menanggungnya agar dapat bertahan hidup.”
Para “comfort women”, dengan ketegarannya mengatasi berbagai
rintangan hidup telah memberi makna baru atas kemampuan bertahan
hidup. Sebagian besar mereka membesarkan anak, meski banyak
dari mereka yang tidak bisa hamil lagi. Mereka menikahi duda dan
144
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents