Temuan
FAKTA-FAKTA
Teng Kao Pao-Chu dan Kim Bok-Dong. Secara umum, d
itemukan k orelasi
yang kuat diantara keberadaan militer Jepang dan fasilitas perbudakan
seksual.
(b) Kondisi Kehidupan secara Umum di Fasilitas Perbudakan Seksual
Beberapa saksi bersaksi, mereka hidup dalam “kondisi amat sengsara”,
dengan makanan yang buruk, seperti “nasi dan acar” setiap harinya.
Kadangkala mereka tidak sempat mandi/membersihkan diri karena
antrean tentara sangat panjang. Kehidupan di “comfort station” banyak
digambarkan oleh para penyintas sebagai “tidak manusiawi”. Kondisi
hidup yang sangat buruk juga menyebabkan “comfort women” lebih
rentan terhadap penyakit seperti malaria dan tuberkulosa. Menurut Pak
Yong-Sim, “comfort women” di Nanking, kekurangan gizi dan menderita
bermacam-macam penyakit. Song Shin-Do bersaksi bahwa “comfort
women” di Wuchang terkena disentri, malaria, dan penyakit paru-paru,
selain penyakit menular seksual. Lu Mang-Mei menyatakan ia terkena
malaria di Pulau Hainan.
Menurut laporan OWI, dua puluh “comfort women” yang telah
diwawancarai merasakan “hidup mendekati mewah di Burma jika
dibandingkan dengan tempat lainnya” dan “makanan maupun b
arangbarang tidak dijatah secara ketat serta punya banyak uang
untuk
membeli
barang-barang yang mereka inginkan”. Meski demikian,
selanjutnya dijelaskan bahwa mereka harus membayar sangat mahal
untuk
makanan dan barang-barang tresebut kepada
sipengelola.
Mereka juga m
enghabiskan masa akhir perang di lubang-lubang
perlindungan, saat pihak Sekutu melakukan pemboman. Menamakan
kondisi hidup di sana sebagai “mendekati mewah”, hanya menegaskan
bahwa kondisi di “comfort station” lainnya jauh lebih buruk.
Kondisi fasilitas perbudakan seksual yang terletak di garis depan lebih
buruk lagi. Para perempuan di sana menjadi korban kekerasan yang
lebih parah, dari tentara-tentara yang marah, takut, dan terlatih agresif.
Berada ditempat yang sangat dekat dengan arena perang, mereka hidup
terus menerus dalam ketakutan. Pak Yong-Sim bersaksi, pada 1943 atau
1944 militer menggiring para perempuan dari sebuah fasilitas di Rashio
ke Lameng, dan memaksa mereka melayani tentara Divisi ke-56 saat
sedang bertempur dan tembak-tembakan sehingga sebagian besar
perempuan tersebut mati terbunuh. Laporan OWI juga menyatakan
119
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents