PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU mereka berulang kali mengalami kekerasan seksual. Menurut bukti ­dokumentasi, Resimen ke-48 menerima izin untuk mendirikan “­comfort station”, kemudian memerintahkan kepala desa mengumpulkan ­perempuan belia dan dewasa untuk mengisinya. Perempuan yang lulus pemeriksaan medis dipaksa masuk ke dalam sistem perbudakan seksual 268 . Menurut ingatan Letnan Satu Iwamura, militer menyuruhnya membeli perempuan dari Indonesia dan Cina untuk “comfort stations”. ­Setelah dilakukan pembantaian di desa-desa,lalu membawa para gadisnya ke pangkalan militer atau markas besar tentara Jepang, kemudian ­diperkosa dan disiksa secara seksual. Perempuan lainnya dikirim ke ­berbagai wilayah di Indonesia dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya 269 . Manakala gadis-gadis setempat tidak memenuhi kualifikasi medis maka “comfort women” untuk fasilitas “comfort” di daerah-daerah di Timur Leste didatang dari Pulau Kisar270. Mereka diberitahu bahwa akan dipekerjakan di sebuah restoran di Abis, di dataran tinggi Timor Leste, nyatanya mereka dipaksa bekerja sebagai “comfort ­woman”. Pada akhir masa perang, mereka memohon kepada tentara Jepang yang t­ erpukul mundur untuk membawa mereka ke Jawa, Jepang, atau ke mana pun selain pulau asal mereka karena mereka malu atas ­tubuhnya dan tidak mau pulang 271. Fasilitas “comfort” juga ­didirikan di Bobonaro272, Marobo, Baguia (­footnote no.273), Dili, Baucau, dan Lautem. Sebagian dari 70 perempuan (­berusia sekitar 20 t­ahun) yang dikirim ke Lautem tidak pernah tiba di sana ­karena t­ erjadinya serangan udara274. Saksi bernama Esmeralda Boe bersaksi di hadapan Pengadilan bahwa ia masih anak-anak ketika tentara Jepang menculiknya dari sebuah ladang di dekat rumahnya. Ia tidak tahu usianya saat ditangkap, tapi ia ingat belum mendapat menstruasi pertamanya dan bahwa payudaranya baru saja mulai tumbuh. Tentara Jepang membawanya ke sebuah rumah, di mana seorang komandan bernama ”Shimimura” memperkosa dan ­menyodomi dirinya. Esmeralda Boe menceritakan pengalaman n ­ gerinya menderita kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara Jepang: Ia membuka pakaiannya, kemudian menelanjangi saya. Saya masih sangat muda dan tidak paham apa yang sedang ia lakukan. Ia ­ ­mendorong saya ke ranjangnya, kemudian ia mulai memperkosa saya 100

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents