PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU Forces Intelligence Service, pada 1943 perempuan-perempuan di Borneo yang sebelumnya pernah terlibat hubungan suka sama suka dengan orang Jepang dipaksa oleh seorang Polisi Khusus Angkatan Laut,Tai Tokei, dijebloskan kedalam fasilitas perbudakan seksual yang dikelilingi kawat berduri. Dikatakan bahwa militer melarang h ­ ubungan ­seksual suka sama suka. Tai Tokei juga menuduh buruh-buruh ­perempuan di ­ perusahaan Jepang di Indonesia menjalin asmara dengan ­ l­ akilaki Jepang257. Laporan ini selanjtnya menjelaskan b ­ ahwa Tai Tokei menelanjangi dan memaksa perempuan-perempuan t­ ersebut ­menjalani pemeriksaan medis, dan perempuan dinyatakan masih ­perawan dipaksa menjadi “comfort women”. Ada pula sejumlah ­perempuan lainnya yang ditangkap di jalan-jalan, lalu dijebloskan ke “comfort stations”. Fasilitas perbudakan seksual tersebut dikelola oleh garnisun Angkatan Laut maupun warga sipil258. Di Balikpapan Indonesia, Letnan Yasuhiro Nakasone -- kemudian ­menjadi Perdana Menteri Jepang-- menyatakan bahwa ia bekerja keras ­membangun fasilitas “comfort” demi mencegah perbuatan tentara dan pegawai sipil Angkatan Laut Jepang menyerang perempuan pribumi259. Pada sebuah telegram rahasia yang dikirim k­ epada Kepala Staf Armada Wilayah Barat Daya di Balikpapan [1942] t­ ercantum bahwa Armada tersebut telah mengelola fasilitas p ­ erbudakan ­ seksual dan ­bekerjasama dengan pemilik “comfort stations” dalam ­urusan ­penentuan lokasi, penyediaan barang-barang, pengangkutan ­ perempuan dan ­menejemennya secara umum260. Di Pulau Ambon sejumlah “comfort women” berkebangsaan Jepang d­ipulangkan dan “comfort stations” berisi perempuan pribumi telah ditutup sehubungan dengan memuncaknya peperangan. S­eorang ­ ­perwira dari Korps Polisi Khusus AL menuturkan bahwa, karena p ­ ersonil militer terus memperkosa perempuan lokal,maka “comfort stations” dibuka kembali. Polisi sipil mengumpulkan p ­ erempuan-­ perempuan pribumi serta ‘indo’ secara paksa. ­ Sebagaimana ­ pernyataan yang disampaikan seorang pegawai administrasi, polisi sipil m ­ ­ enaikkan ­perempuan-perempuan itu ke kapal laut diiringi ­teriakan protes pihak keluarga. Kendati ­ mengatakan bahwa sebagian dari ­ perempuanperempuan itu a­ dalah mantan “c­omfort women”, ­ pekerja seks dan sukarelawan, perwira itu mengakui bahwa “pemaksaan tidak dapat dihindarkan”261. ­ Menurut cerita Yasumasa ­ Sakabe, juru bayar yang 96

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents