PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU tentang “comfort women” yang ditawan di Huichun sekitar tahun 1943, “beberapa dari mereka berwajah seperti anak k­ ecil”. Serdadu itu ingat bahwa gadis-gadis Korea “diberi tahu bahwa bekerja m ­ enyenangkan tentara dan memberikan kenyamanan bagi mereka a­dalah suatu hal yang baik, lagi pula mereka dapat ­menghasilkan s­ejumlah uang.” Ia menuturkan “mereka dibawa pergi jauh dari r­umahnya.... Setiap hari Minggu, para lelaki sudah seperti binatang dan kaum perempuan itu tidak bisa beristirahat sedikit pun. Sebelum selesai m ­ elayani satu lakilaki, sudah ada laki-laki lain yang mengetuk pintunya. Mereka bahkan tidak diizinkan beristirahat saat mengalami menstruasi, mereka harus tetap bekerja....Beberapa perempuan akhirnya bunuh diri 226. Saksi Kim Gun-Ja dipaksa bekerja sebagai “comfort woman” di Huichun sekitar periode juga. Seorang saksi di hadapan Pengadilan ini, Pak Yong-Sim, bersaksi: pada 1938, saat berusia 17 tahun, ia bekerja di toko penjual jas gaya Barat ketika soerang perwira polisi Jepang yang mengenakan seragam dan pedang panjang menceritakan kepadanya tentang lowongan pekerjaan di sebuah pabrik. Berasal dari keluarga miskin dan pekerjaannya saat itu bergaji sangat yang sangat kecil, ia memutuskan melamar lowongan tersebut, kemudian perwira itu membawanya ke Pyongyang, dan disana ia dijejalkan ke dalam sebuah kendaraan bersama sejumlah perempuan lainnya dan dibawa ke Nanking227. Setibanya disana, militer Jepang memaksanya menjadi “comfort woman”. Pak Yong-Sim menceritakan pengalaman pahitnya kepada Pengadilan: Saya menjadi seorang “comfort woman”. Saya ditempatkan di sebuah bangunan tiga lantai di Nanjing yang merupakan bagian suatu “­comfort station” Kinsui-ro. Saya dipanggil dengan nama Jepang ”Utamaru”. Saya harus melayani 30 serdadu setiap hari. Pada suatu hari saya ­sedang ­kesakitan, dan ketika saya tidak melayani permintaan seorang ­perwira, jahanam itu memukul saya dengan tinjunya, menendang ­ dengan sepatu botnya, kemudian mengambil sebuah pisau ­ ­ panjang dan ­menempelkannya di leher saya dan....menyayat saya. Darah ­mengucur keluar dan membasahi seluruh badan saya, namun perwira ­jahanam itu terus saja memuaskan birahinya. ”Comfort women” yang t­erkena penyakit dan menderita kurang gizi dibawa pergi dan seringkali ­ dibuang ke s­ungai agar tenggelam. Saya juga menyaksikan dua t­ entara Jepang menusuk perut seorang perempuan yang hamil kemudian 80

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents