SUMAT E R A
Kisah Kemenyan, Perempuan yang Menangis
Kisah kemenyan adalah kisah tentang perempuan. Asal-mula kemenyan
diceritakan secara turun-temurun sebagai penjelmaan gadis yang
berkorban untuk kaumnya. Konon getah kemenyan adalah tangis
perempuan yang mengorbankan diri menjadi pohon untuk
membebaskan warga desa dari kemiskinan. Oleh karena itu, pohon
kemenyan dapat diartikan sebagai pohon keramat dan sakral yang tidak
bisa disakiti, apalagi ditebang karena dianggap bagian dari keluarga,
yakni anak perempuan. Ledakan kemarahan warga menjadi pantas
ketika Toba Pulp Lestari (TPL) secara membabi buta menebangi pohon
kemenyan yang mereka miliki sejak tahun 2009. Penebangan pohon
kemenyan telah menghancurkan kesakralan tombak haminjon, dan
melukai warga begitu dalam.
Kemarahan yang membuncah ini telah memutus urat takut warga. 19
September 2012, sulit membayangkan bagaimana beraninya petani
kemenyan menyerobot dua unit senjata laras panjang milik Brimob yang
sedang berdiri siaga menjaga alat-alat berat berupa kepiting dan
bulldozer yang sedang mencabik-cabik pohon kemenyan. Petani
kemenyan juga pernah dengan beraninya berupaya menghentikan
penebangan dengan cara menyerobot belasan chainsaw dari para
pekerja yang gagah dan kuat itu. Baik Brimob (Brigade Mobil), maupun
para pekerja TPL itu, lari terbirit-birit melihat petani sudah hilang urat
takutnya.
Kemarahan dengan merampas senjata laras panjang dari pasukan
khusus polisi dari kesatuan Brimob bisa dinalar jika melihat bagaimana
ratusan hektar tombak haminjon telah dirampas lebih dulu dari warga
desa. Perampasan pohon haminjon yang adalah hidup mati bagi ratusan
petani kemenyan lebih menyakitkan daripada sekadar merampas dua
senjata laras panjang itu dari dua orang Brimob penjaga perusahaan
penebang kayu itu.
Seorang ibu yang memiliki anak dua belas orang, Ompu Putra boru,
menjelaskan bahwa pada suatu hari di tahun 2013, para laki-laki yang
bekerja di hutan membawa informasi bahwa pohon kemenyan telah
ditebangi oleh perusahaan pabrik kertas TPL itu, dia bergegas pergi ke
dapur, mengambil sebilah pisau kemudian menyelipkannya di balik
sarung yang dililitkan di pinggang. Perempuan dengan amarah yang
membuncah itu berlari ke sebuah persimpangan jalan bernama
5