v
perjalanan sejarah bangsa Indonesia, di penghujung Orde Baru dimana gerakan
demokratisasi semakin menguat dan tak terbendung, gelombang reformasi yang
mencatat berbagai pelanggaran HAM yang berat serta merupakan sejarah besar
negeri ini menuju perubahan politik.
Setelah itu, era reformasi ternyata masih menyisakan berbagai persoalan
ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia. Kita pun mencatat berbagai
pelanggaran hak asasi manusia yang berat akibat konflik bersenjata yang
berkepanjangan di Aceh, Papua bahkan juga konflik sosial lainnya di Kalimantan
Barat, Poso-Sulawesi, Maluku/Ambon dan beberapa daerah lainnya. Berbagai
kekerasan, perampasan hak, ketidakadilan hukum, diskriminasi, persekusi masih saja
menandai perjalanan demokrasi Indonesia. Peradaban bangsa ini sesungguhnya
terus bergerak maju, namun di sana-sini pelanggaran hak asasi manusia masih
terjadi dan korban pun terus bertambah.
Laporan tahunan Komnas HAM tahun 2018 mencatat berbagai isu hak asasi
manusia, dari yang terpublikasi luas di media massa maupun yang tidak terdengar
di ruang publik. Tentu saja isu strategis utama masih tentang tarik-menarik soal
penyelesaian pelanggaran HAM yang berat. Saat ini kami masih menyelesaikan
beberapa berkas penyelidikan di samping 10 berkas yang sudah kami tuntaskan
sejak periode-periode kepimpinan Komnas HAM sebelum ini. Catatan lain tentang
kompleksitas masalah konflik agraria, termasuk akibat pembangunan infrastruktur
yang semakin digalakkan belakangan ini. Pembangunan untuk manusia mestinya
menjadi prinsip bersama, bukan semata untuk pertumbuhan ekonomi dan
fisik. Berbagai langkah dilakukan Komnas HAM termasuk upaya mediasi yang
mempertemukan para pihak - meski tidak mudah - namun berbagai capaian juga
bisa didapatkan. Paling bagus adalah apabila sejak awal kebijakan pembangunan
diletakkan di atas dasar keadilan dan hak asasi manusia.
Tahun 2018 kami pun masih mencatat pelanggaran hak asasi manusia pada
kelompok-kelompok minoritas baik berdasarkan agama, ras dan suku maupun
atas dasar gender, orientasi seksual dan lainnya. Pendekatan langsung ke para
aktor yang terlibat maupun upaya membangun kesadaran untuk membangun
masyarakat bangsa yang mengedepankan prinsip kesetaraan, non-kekerasan,
dialogis dan emansipatoris kami lakukan melalui berbagai kegiatan semisal Festival
HAM, Hari HAM Internasional, atau simulasi Sidang HAM serta berbagai kegiatan
kultural-edukatif lainnya. Bahkan kami pun masuk ke sekolah-sekolah, universitas,
membangun kerja bersama dengan peneliti, penggiat HAM, lembaga agama, media
massa dalam rangka memperkuat isu hak asasi manusia. Pemilihan Umum Kepala
Daerah serta Pemilu Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden pun kami gunakan
untuk semakin mengarusutamakan isu hak asasi manusia di dalam bermasyarakat
dan bernegara. Tentu saja, pemanfaatan ini sekaligus ingin memastikan prinsipprinsip hak asasi manusia digunakan di dalam setiap tahapan kegiatan pemilihan
umum.