TEMUAN
Sejak ada perusahaan sawit, sungai kami rusak…
kami susah cari air bersih… ikan-ikan pada mati… kami
tidak dapat ajari anak-anak kami soal nama-nama ikan
itu, mereka tidak pernah lihat lagi ikan itu… kami juga
tidak bisa lagi ajar anak-anak kami cara berenang….
(DKU Region Kalimantan)
Jijil dipakai untuk ramuan obat, biasa kami perempuan
yang cari di pantai. Sekarang kami tidak boleh lagi masuk
ke pantai….
(DKU Region Maluku)
d. Perempuan sebagai agen perdamaian
Perempuan adat memiliki fungsi khas dalam menjaga silaturahmi
antarwarga. Perempuanlah yang melakukan aksi konkret untuk merintis
perdamaian dengan membawa hantaran kepada pihak-pihak yang
bertikai. Hilangnya keanekaan hayati hutan, terutama hasil hutan
nonkayu, membuat lemahnya kerekatan sosial di antara masyarakat,
karena tidak ada lagi hantaran yang bisa mereka bawa.
Durian di hutan bukan sekedar buah untuk di
makan, tetapi juga sebagai tanda silaturahmi. Sebagai
antaran kami ke tetangga… Sekarang sudah hancur
kebun durian kami karena tergusur kebun sawit,
bagaimana kami menjaga silaturahmi dengan yang lain?
(DKU Region Kalimantan)
Kalau ada anak yang bertikai dan salah satunya
mengalami luka, maka emak yang anaknya melukai akan
membuat tepung hambar dan menghantarkan kepada
anak yang terluka. Tepung hambar biasanya dibawa
dengan jeruk dan ubi yang direbus, ubi di makan bersama
sebagai wujud silaturahmi dan setelah itu persoalan selesai.
(DKU Region Sumatera)
21