Bagian I Mengelola Pelatihan Partisipatif Kapan Sebaiknya Menggunakan Tanya-jawab Sebagai cara belajar, teknik tanya-jawab dapat digunakan: l Sebagai pengantar terhadap modul belajar. Gunanya untuk memulai proses belajar dan mengenali kekayaan pengalaman para peserta; l Bila modul belajar berlangsung singkat, misalnya, tidak lebih dari 30 menit, tanya-jawab dapat digunakan sebagai satu-satunya metode (tanpa menggabungkan dengan metode lainnya, seperti ceramah atau bermain peran); l Jika topik yang dipelajari dapat dihubungkan dengan pengalaman sebelumnya, baik itu pengalaman kerja peserta maupun pengalaman hidup mereka secara umum. Metode tanya-jawab tidak berguna untuk mempelajari hal sangat teknis yang sukar dicarikan padanannya dengan pengalaman peserta; l Jika peserta dimungkinkan menjawab pertanyaan dengan menggunakan nalar dan akal sehat. Fasilitator dapat membantu menemukan jawaban dengan menggunakan analogi, ilustrasi, ataupun contoh. Boleh saja memadukan tanya-jawab dengan teknik lain. Gunakan tanya-jawab pada saat peserta sedang menyelesaikan suatu tugas, misalnya pada saat bermain peran, menyelesaikan satu studi kasus, ataupun pada saat diskusi. Pada situasi ini, tanya-jawab dilakukan untuk melihat kemajuan yang dicapai dalam pengerjaan tugas. Tanya-jawab biasanya berguna bila peserta salah arah atau tidak punya gagasan. 2. Studi Kasus Apa Itu Studi Kasus? Studi kasus adalah metode partisipatif dengan menyajikan bahan tertulis berisi latar belakang, kronologi kejadian atau gambaran keadaan tertentu baik rekaan maupun sungguhan, yang dilengkapi dengan data pendukung. Dengan studi kasus, peserta belajar menganalisis bahan belajar atau memikirkan pemecahan dari masalah yang disajikan. Mengapa Studi Kasus? l Tujuan utama penyajian studi kasus adalah berlatih keterampilan untuk menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Bagaimana Caranya? Untuk melakukannya, diperlukan beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelumnya: l Kaji ulang tujuan modul. Periksa apakah contoh kasus yang akan dilatihkan mampu mengarahkan peserta kepada tujuan tersebut; l Tentukan keahlian-keahlian yang ingin dicapai. Selama proses, amati apakah peserta mampu mencapai keahlian tersebut; l Rancang pembagian kelompok. Sesuaikan dengan jumlah peserta, pelatih, dan waktu yang tersedia. Sebaiknya latihan dilakukan dalam kelompok kecil; l Susun ”skenario” latihan. Terdapat tiga “skenario” studi kasus. l Pertama, studi kasus sederhana. Peserta memahami tugasnya, melaksanakannya, dan kembali ke forum utama untuk berdiskusi; 26 Manual Pelatihan Dasar HAM: PEGANGAN FASILITATOR

اختر الفقرة المستهدفة3