Bagian I Mengelola Pelatihan Partisipatif
tersebut kepada peserta lain. Tampilkan
situasi problematik yang memancing peserta untuk beradu pendapat.
4. Kerap memotong pembicaraan peserta
Ketika peserta sedang bicara, terutama
ketika sedang menyatakan pendapatnya, fasilitator tidak perlu memotongnya. Terlebih lagi dengan memperlihatkan mimik yang tidak sabar. Jika
pembicaraan peserta tersebut terlalu
panjang, sehingga membuat peserta
lainnya mulai bosan, fasilitator dapat
menyelanya, dengan memilih cara
yang taktis.
5. Bertengkar dengan peserta
Seringkali peserta menyanggah pendapat fasilitator, dan peserta memperlihatkan ketidakpuasannya secara
terbuka. Fasilitator tak perlu terpancing
untuk berdebat (bertengkar). Untuk
menghindarinya, fasilitator dapat
melemparkan kembali pertanyaan atau
pendapat dari perserta tersebut kepada peserta lainnya untuk ditanggapi,
sebelum akhirnya ditarik konklusinya.
Perdebatan yang berkepanjangan,
terlebih lagi jika tidak menyentuh substansi permasalahan, akan menjemukan peserta lainnya.
Banyak fasilitator yang ragu untuk menerapkan metode partisipatif karena menganggap
metode ini terlalu berbeda dengan metode instruksional yang sudah biasa dilakukan. Metode
partisipatif ini pada umumnya sudah cukup banyak dikenal oleh para fasilitator pelatihan.
Namun, dalam proses fasilitasinya, hanya satu atau dua metode yang dijalankan. Mereka
khawatir akan diremehkan dan dianggap kekanak-kanakan; atau fasilitator khawatir peserta
pelatihan menjadi bingung dan kecewa karena tidak ada bahan tertulis yang dapat dibagikan
pada peserta. Namun sikap itu sebenarnya mungkin akan berubah setelah pelatihan mulai
berjalan. Mereka akan merasa lebih nyaman dan percaya diri untuk menggunakan metode
partisipatif dan membuka dialog dengan peserta latihan.
10
Manual Pelatihan Dasar HAM: PEGANGAN FASILITATOR