Bagian I Mengelola Pelatihan Partisipatif Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktik proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara pedagogis. Prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan orang dewasa. Padahal orang dewasa sebagai individu dipandang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri. Karena itu, proses interaksi belajar yang diperlukan adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu pada warga belajar itu sendiri seperti yang ditemukan dalam model andragogi. Asumsi-asumsi Pokok Menurut Malcolm Knowles, pakar pendidikan parrtisipatif, terdapat empat asumsi pokok dalam pendekatan andragogi: 4 1. Konsep Diri Asumsinya, kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri, sehingga mampu mandiri dan mengarahkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, secara umum, konsep diri anakanak masih tergantung; sementara pada orang dewasa, konsep dirinya sudah mandiri. Oleh karena kemandiriannya inilah orang dewasa butuh memperoleh penghargaan dari orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan (self determination) dan mengarahkan dirinya (self direction). Apabila orang dewasa tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan atas dirinya sendiri, akan timbul penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis untuk mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang bersifat sementara. 2. Peran Pengalaman Asumsinya adalah setiap individu membutuhkan proses untuk tumbuh dan berkembang menuju kematangan. Dalam perjalanannya, individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman hidup. Hal ini menjadikannya sebagai sumber belajar yang kaya, dan pada saat yang bersamaan memberikan dasar untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam pelatihan atau pembelajaran orang dewasa terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang digunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman, atau yang dikenal dengan experiential learning cycle (proses belajar berdasarkan pengalaman). Hal ini menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metode serta teknik pelatihan, yang antara lain lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, kunjungan lapangan, dan melakukan latihan-latihan. 3. Kesiapan Belajar Asumsinya, semakin matang individu, kesiapan belajarnya bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tapi lebih banyak dipengaruhi Manual Pelatihan Dasar HAM: PEGANGAN FASILITATOR

اختر الفقرة المستهدفة3