• mengatur
• diatur
• bertindak
• meniru
• memilih bahan pengajaran
• menyesuaikan diri
• subjek
• objek
Pelatihan partisipatif mencoba untuk menjauhkan bahkan menolak hubungan yang timpang
antara guru dan murid. Model ini menerapkan hubungan yang setara antara semua orang
yang terlibat dalam proses belajar, yaitu peserta dan fasilitator pelatihan. Berbeda dengan guru,
fasilitator bukan satu-satunya orang yang menguasai pengetahuan. Fasilitator lebih berperan
sebagai katalisator dan moderator yang memungkinkan proses komunikasi berlangsung ke
semua arah (bukan cuma dua arah), baik di antara sesama peserta maupun antara peserta
dan fasilitator. Hal yang dikomunikasikan lebih pada pengungkapan pengalaman dan
pengetahuan peserta pelatihan sendiri. Fasilitator juga membantu menemukan kekuatan
dan kelemahan yang tersimpan pada masing-masing peserta. Dengan demikian, fasilitator
turut terlibat dalam belajar bersama, bukan lagi sebagai sosok guru otoriter yang maha
tahu atau narasumber yang menguasai materi. Fasilitator berfungsi sebagai pendorong bagi
peserta untuk mencari pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru.
Selain itu, dalam pelatihan partisipatif, subyek adalah mereka yang belajar, yakni fasilitator
dan peserta. Peserta adalah pemilik sah dari dirinya sendiri, baik yang berupa pemikiran,
bakat, maupun keahlian yang semuanya harus diberi ruang untuk berkembang. Karena
itu, fasilitator hanya mengarahkan agar peserta mampu menemukan cara-cara baru dalam
mengatasi masalah yang muncul selama pelatihan, serta mengembangkan komitmen, cara
pandang, kemampuan, dan kepercayaan diri mereka.
Pendekatan Andragogi
Istilah lain yang kerap dihubungkan dengan pelatihan partisipatif adalah pendidikan bagi
orang dewasa, yakni andragogi. Pendekatan andragogi yang diperkenalkan oleh Malcolm
Knowles, beranggapan bahwa orang dewasa mempunyai banyak pengalaman yang beragam
dalam hidupnya.
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno “aner”, dengan akar kata [ andr-]
yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan “agogos”
yang berarti membimbing atau membina. Pendekatan ini kerap disandingkan
dengan pendekatan pedagogi, yang ditarik dari kata “paid” (artinya anak) dan
“ agogos” (membimbing atau memimpin). Dengan demikian, secara harafiah,
“pedagogi” berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau
mengajar anak.
Manual Pelatihan Dasar HAM: PEGANGAN FASILITATOR
3